Foto Wisuda Pasca Sarjana

Selasa, 07 Desember 2010

PERUMPAMAAN DUA ORANG ANAK

Matius 21:28-46

Perumpamaan tentang dua orang anak (21:28-32) dan penggarap kebun anggur (21:33-46) merupakan dua perumpamaan yang Yesus sampaikan ketika ia mengajar di Bait Allah. Pada waktu itu Ia berdialog dengan imam-imam kepala serta tua-tua bangsa Yahudi (21:23-27) dan mereka menanyakan dengan kuasa siapa/ manakah Yesus melakukan mujizat dan berbagai tindakan yang Ia lakukan? Namun Yesus tidak menjawab pertanyaan itu, justru Ia balik mengajukan pertanyaan kepada mereka, “dari manakah asalnya baptisan Yohanes dari Surga atau dari manusia?” Imam-imam kepala dan tua-tua Yahudi yang licik itu tidak mampu memberikan jawaban karena mereka ingin mencari aman. Mereka takut mengakui bahwa baptisan Yohanes berasal dari manusia karena akan dihakimi masa di sisi yang lain mereka tidak berani mengatakan bahwa baptisan itu berasal dari surga sebab mereka sendiri menolak Yohanes Pembaptis.

Kelompok kaum agamawan ini sebenarnya tidak peduli dengan kehendak Tuhan, mereka tidak memikirkan apa yang Allah kehendaki bagi mereka. Mereka hanya memikirkan kepentingan diri mereka sendiri. Para pemuka agama Yahudi ini membangun kebenaran mereka sendiri sehingga mereka tidak takluk pada kebenaran Allah (Rom. 10:3). Keagamaan bangsa Yahudi yang dipimpin oleh imam-imam yang seperti ini merupakan agama yang berkutat dan berpusat pada hukum manusia dan bukan kepada Allah. Agama hanyalah legalitas hukum yang cenderung munafik. Mereka mengakui Allah tetapi bukan Allah yang ada di dalam kitab suci, walaupun Allah tersebut kerap kali disebut sebagai Allah yang dimaksud, namun mereka “menciptakan” allah lain, yang lebih sesuai dengan keinginan mereka. Alhasil, meskipun Allah telah berbicara kepada mereka berkali-kali melalui para nabinya bangsa ini tetap menolak Allah, karena Allah yang diberitakan dan dihadirkan oleh para nabi tersebut tidak sesuai apa yang mereka harapkan selama ini.

Dalam kasus perbincangan para imam kepala dengan Yesus, jawaban mereka kepada Allah tidak didasarkan kepada kebenaran Allah yang berada dalam kitab suci. Mereka tidak menyukai Yohanes yang lantang berbicara tentang dosa dan kesalahan secara terang-terangan. Yohanes Pembaptis menelanjangi dosa-dosa kemunafikan kelompok agamawan. Namun orang banyak mengakuinya sebagai nabi Allah dan rakyat Israel datang kepadanya untuk dibaptis. Selama Yohanes Pembaptis melayani, ia telah membuat kesan yang mendalam pada sebagian besar orang-orang Yahdui. Tidak satu nabi pun yang muncul di Israel selama berabad-abad, dan Yohanes telah datang dalam tradisi nabi-nabi kuno, memanggil semua orang kembali untuk bertobat dan mencari pengampunan dari segala dosa mereka. Banyak orang yang meresponi panggilan pertobatan Yohanes bahkan orang-orang yang tidak mengikuti perkaataan Yohanes pun yakin bahwa ia adalah seorang nabi. Berhubung tidak ada posisi yang aman dalam hal ini maka mereka memutuskan untuk mengambil posisi tidak menjawab.

Kepada sesuatu yang mereka dan orang banyak tahu adalah benar, mereka tidak mau mengakuinya sebagai kebenaran. Jelas di sini terlihat suatu kebebalan hati oleh karena dosa telah menguasai kelompok agamawan ini. Mereka memanggku jabatan-jabatan suci tetapi hidup mereka tidak suci. Mereka membuat keputusan-keputusan penting bagi pekerjaan Tuhan tetapi hidup sebagi musuh-musuh Tuhan. Hal ini sangat perlu untuk diwaspadai, karena orang-orang Farisi yang bebal ini adalah orang-orang yang juga buta. Mereka tidak mampu melihat kesalahan fatal yang ada dalam diri mereka. Sebaliknya dengan liciknya mereka menggunakan jabatan-jabatan agamawi mereka untuk meloloskan tujuan mereka melenyakkan Yesus, membunuh Anak Allah yang selalu membongkar dosa-dosa mereka. Dalam konteks demikianlah perumpamaan-perumpaan ini Yesus sampaikan.

PERUMPAMAAN TENTANG 2 ORANG ANAK

Perumpamaan ini adalah unik tulisan Matius, Injil-injil yang lain tidak menuliskan perumpamaan ini. Yesus menyampaikan ilustrasi ini untuk menyatakan betapa pentingnya berbuat apa yang baik dari pada sekedar mengatakan apa yang baik. Matius tidak memberikan penjelasan apakah perumpamaan ini langsung Tuhan Yesus katakan untuk meresponi pertanyaan imam-imam kepada dan tua-tua tentang sumber otoritas atau ada jedah waktu di antaranya. Meskipun tidak ada indikasi waktu yang sangat berdekatan namun Matius menempatkannya secara kronologis tepat setelah perdebatan mengenai otoritas dan menyebutkan nama Yohanes dalam penjelasan perumpamaan ini. Jadi perumpamaan ini masih bisa dimengerti untuk memberikan jawaban kelanjutan mengenai ketidakpercayaan para pemuka agama kepada Yohanes Pembaptis dan Yesus.

Perumpamaan ini dimulai dengan pertanyaan “apakah pendapatmu tentang ini?” (21:28). Suatu pertanyaan yang mengundang para pendengar Yesus untuk memikirkan perumpamaan ini dari perspektif mereka, perspektif dari orang-orang yang sebenarnya menjadi salah satu karakter dalam kisah tersebut. Hal seperti ini bertujuan untuk membawa orang-orang yang melakukan kesalahan keluar dari dirinya sendiri dan mencoba menilai perbuatan mereka sendiri dalam perspektif yang baru (perspektif yang cenderung netral). Sehingga mereka bisa melihat kesalahan mereka sendiri yang selama ini tidak bisa mereka lihat ketika mereka melihatnya dari dalam diri sendiri. Hal yang persis sama pernah terjadi pada Raja Daud. Daud sangat marah kepada seorang karakter (tokoh) ilustrasi Natan yakni orang kaya yang mempunyai banyak domba tetapi mengambil satu-satunya domba milik keluarga miskin ketika ia kedatangan tamu. Daud murka kepada karakter di dalam cerita tersebut padahal tokoh itu adalah dirinya sendiri. Demikian pula halnya imam-imam kepala dan tua-tua ini diajak berpikir dan menilai suatu perumpamaan yang tanpa mereka sadari sebenarnya menggambarkan diri mereka sendiri. Hal ini dilakukan oleh Natan dan Tuhan Yesus karena manusia jauh lebih mudah melihat kesalahan orang lain dari pada melihat kesalahannya sendiri. Oleh sebab itu Yesus mengucapkan suatu pepatah: “Mengapakah engkau melihat selumbar di mata saudaramu, sedangkan balok di dalam matamu tidak engkau ketahui?” (Mat 7:3).

Menjawab ‘tidak’ tetapi melakukan (28-29)

Ada seseorang yang mempunyai 2 orang anak. Pada hari itu ia menyuruh anaknya yang sulung untuk pergi ke kebun anggur. Anak ini menjawab “tidak mau.” Di mulut anak ini tidak mau menuruti apa kata orang tuanya. Secara verbal anak itu menolak perkataan ayahnya, ia tidak taat kepada ayahnya. Namun sesudah itu; Alkitab Yunani menggunakan kata usteros yang berarti “later, afterwards,” anak sulung itu berubah pikiran (metameletheis). Kata “later, afterwards” menunjukkan bahwa ia mulai memikirkan ulang apa yang telah ia katakan kepada ayahnya, terdapat jedah waktu yang ia ambil untuk mengintrospeksi jawabannya yang menolak taat kepada ayahnya sendiri. Setelah dalam jedah waktu itu ia berpikir dan merenung ia mengambil keputusan untuk berubah. Kata metameletheis (berubah pikiran) mempunyai konotasi “regret/ menyesal” yang juga digunakan oleh Matius dalam 27:3. Jadi si sulung menyesal telah mengucapkan jawaban ekspresi ketidaktaatan kepada ayahnya (verbal). Tetapi ia menyesal telah melakukannya kemudian berubah taat secara tindakan. Matius tidak mencatat ia meminta maaf kepada bapanya karena ketidaktaatannya secara verbal. Poin Yesus melalui karakter si sulung ini adalah secara verbal (pada awalnya) ia tidak mengatakan apa yang baik dan tidak taat tetapi sekarang (akhirnya) ia melakukan kehendak bapanya.

Menjawab ‘ya’ tetapi tidak melakukan (30)

Selain kepada si sulung, karakter ayah dalam perumpamaan ini juga meminta kepada anaknya yang bungsu untuk pergi ke kebun anggur dan bekerja di sana. Si bungsu menjawab “saya” (Yun: ego) yang merupakan singkatan dari “idou ego” yang berarti “here am I,” yakni jawaban yang dapat diartikan “ya, saya mau pergi.” Jawaban verbal dari anak yang kedua ini menyatakan bahwa ia mau melakukan apa yang bapanya kehendaki. Namun, Yesus langsung melanjutkan bahwa anak yang mengatakan “ya saya mau” ini tidak melakukan apa yang diperintahkan oleh bapanya. Ia hanya mengatakan apa yang baik saja (verbal) tetapi ia sama sekali tidak taat kepada bapanya. Mulutnya mengatakan “ya” tetapi perbuatannya berkata “tidak.”

Makna Perumpamaan: Melakukan Kehendak Bapa

Setelah Yesus menyampaikan perumpamaan ini ia bertanya “siapakah dari antara 2 orang ini yang melakukan kehendak ayahnya?” bukan “siapa yang menjawab ‘ya’ kepada ayahnya?” Melalui pertanyaan inilah Yesus mengajak orang-orang yang mendengarkannya untuk berpikir secara jernih dan benar, karakter yang seperti apa yang sebenarnya Allah inginkan dari orang-orang yang mendengarkan firman Tuhan tersebut. Bukan orang-orang yang sekedar mendengarkan firman Tuhan, bukan pula orang yang sekedar memperkatakan firman Tuhan atau setuju bahwa firman Tuhan itu baik, tetapi yang terpenting dari semuanya adalah orang tersebut melakukan kebenaran firman Tuhan tersebut. Pesan ini menjadi semakin kuat karena Matius tidak menyebutkan apa yang harus dikerjakan oleh si sulung dan si bungsu di kebun anggur. Jenis dan bentuk pekerjaan tersebut diabaikan karena tidak signifikan dan bisa mengalihkan fokus dari poin perumpamaan. Yang terpenting adalah apakah mereka melakukan apa yang diperintahkan oleh ayah mereka atau tidak. Taat kepada perintah dan bukan pada jenis pekerjaannya.

Melalui ayat penutup, ayat 32, Yesus ingin meyakinkan tidak ada kesalahmengertian dari poin perumpamaan yang ia berikan, oleh karena itu Yesus kembali kepada permasalahan mengenai Yohanes Pembaptis guna mempertegas dan memperjelas pesan perumpamaannya. Kelompok-kelompok pemungut cukai dan wanita-wanita sundal percaya kepada perkataan Yohanes namun para pemimpin agama yang berdebat dengan Yesus tidak percaya meskipun mereka telah melihat dan mendengar Yohanes Pembaptis. Pada bagian yang lain Matius juga mencatat hal yang mirip, dimana banyak orang yang berseru “Tuhan, Tuhan” tetapi mereka tidak melakukan kehendak Bapa di Surga (Mat 7:21). Yesus mengatakan dengan tegas dan keras bahwa Allah tidak mengenal orang-orang yang seperti demikian. Menyebut nama Tuhan, aktif melayani Tuhan, mengetahui konsep-konsep teologi yang dalam dan jabatan gerejawi yang tinggi tidak memberikan jaminan seseorang mengenal Tuhan. Prinsip yang Yesus ajarkan sangat sederhana, hanya orang yang melakukan kehendak Bapa di Surga saja yang berhak masuk ke dalam kerajaan Surga. Mulut dan janji-janji kepada Tuhan tidak berkontribusi apa-apa. Para pelaku kehendak Bapa adalah orang-orang yang bukan saja mengenal namaNya tetapi juga bergumul, berjuang untuk melakukan kehendak Bapa. Pergumulan dan perjuangan untuk melakukan kehendak Allah lahir karena mereka mengenal Allah dan pengenalan yang sejati itu membawa mereka pada kerinduan untuk melakukan kehendak Pribadi yang mereka kasihi.

Secara prinsip ketiga perumpamaan yang Yesus sampaikan pada pasal 21-22 ini memiliki pesan yang serupa, yakni: para pemungut cukai dan orang-orang berdosa yang terbuang sekarang telah bertobat dan menjadi orang-orang yang melakukan kehendak Allah, sementara mereka yang dekat dengan firman Allah jauh dari keselamatan karena mereka hanya sibuk mendengarkan dan memperkatakan tetapi tidak melakukan kehendak Allah.

Perumpamaan ini menampilkan 3 karakter, yakni ayah, anak sulung dan anak bungsu. Karakter ayah mendatangi 2 orang anaknya dan ia mengatakan hal yang persis sama (21:30), yakni “anakku, pergi dan bekerjalah hari ini dalam kebun anggur” (21:28). Jadi sang ayah tidak mengharapkan banyak hal dalam perkataannya ini, ia ingin hari itu ada yang pergi untuk bekerja di kebun anggurnya dan ia meminta anaknya melakukan pekerjaan tersebut. Awalnya ia datang kepada si sulung, tetapi anaknya itu menolak dengan mengatakan “tidak,” (terjemahan LAI berbeda dengan teks Yunani UBS4, LAI mencatat bahwa si sulung mengatakan “ya” tetapi tidak melakukan, sementara teks UBS4 mengatakan hal yang sebaliknya). Karena itu ia pergi kepada anaknya yang bungsu dan menjawab “ya.” Pada waktu ia meminta anaknya pergi ke kebun anggur, ia mendapatkan 2 jawaban yang kontras, namun harapan si ayah bukanlah sekedar jawaban tetapi siapa yang pergi ke kebung anggur untuk bekerja. Karena menjawab “ya” atau “tidak” bukanlah masalah, meskipun menjawab “tidak” kepada orang tua yang meminta adalah tindakan kasar dalam tradisi Yahudi, namun yang terlebih penting dari semuanya itu adalah perbuatan. Jadi karakter ayah hanya membutuhkan “tindakan pergi” atau “tidak pergi,” dan respon di awal diabaikan.

Seperti yang sudah dibahas sebelumnya, Yesus mengawali perumpamaanNya dengan mengatakan “apa pendapatmu tentang ini”? Sebuah kalimat netral yang memberikan kesempatan semua orang berkomentar secara objektif tentang perumpamaan tersebut. Hasilnya imam-imam kepala dan tua-tua bangsa Yahudi penuh dengki itu mampu menjawab pertanyaan Yesus dengan benar. Mereka tahu bahwa yang benar adalah si bungsu, meskipun diawal bersikap tidak sopan dengan mengatakan “tidak” tetapi ia menyesal dan akhirnya melakukan kehendak ayahnya. Kaum agamawan itu tahu bahwa poin perumpamaan itu adalah “siapa yang melakukan kehendak bapa.” Sekarang pertanyaan, yang sekaligus makna perumpamaan itu, diajukan kepada mereka; apakah mereka melakukan kehendak Allah atau tidak?

Yesus menyebut Yohanes pembaptis sebagai orang yang datang untuk menunjukkan kebenaran kepada kaum agamawan tersebut, tetapi mereka tidak mau mendengarkan apa yang dikatakan Yohanes. Mengakui bahwa Yohanes adalah nabi yang benar mereka juga tidak berani karena mereka tidak suka dengan koreksi-koreksi Yohanes. Yesus membandingkan kelompok para imam ini dengan kelompok para pendosa, pemungut cukai dan perempuan sundal. Kelompok yang kedua ini akan mendahului kelompok “suci” itu masuk ke surga. Mengapa? Alasannya sederhana karena para imam-imam kepala yang rajin melayani di Bait Allah dan mahir dalam hal kitab suci itu tidak melakukan kehendak Allah. Mereka hanyalah orang-orang jahat berjubah agama yang tidak peduli dengan kebenaran Allah apalagi melakukannya.

Dalam khotbah-khotbahnya, Yohanes Pembaptis menyatakan bahwa orang yang bertobat haruslah menghasilkan buat pertobatan yang nyata (3:8). Oleh karena itu Yesus tidak mungkin menyebut pemungut cukai dan orang-orang berdosa lainnya sebagai orang yang telah melakukan kehendak Bapa tanpa mereka menghasilkan buah yang nyata pada waktu Yesus menyampaikan perumpamaan itu. Tidak diragukan lagi orang-orang berdosa yang percaya kepada pemberitaan Yohanes Pembaptis dan Yesus sudah menunjukkan buah-buah yang nyata bahwa mereka telah bertobat dan mulai hidup dengan benar. Salah satunya Matius, seorang pemungut cukai yang menulis Injil ini, telah meninggalkan dosa dan menjadi murid Yesus. Orang-orang yang dulunya digolongkan sebagai orang-orang berdosa sekarang ini sudah masuk dalam proses pembelajaran mengenal Allah dan hidup melakukan kehendak-kehendakNya. Buah dari pelayanan Yohanes Pembaptis ini sebenarnya diketahui dan disaksikan oleh para pemuka agama Yahudi, namun semuanya itu tidak memberikan dampak apa-apa kepada mereka karena mereka hanya berkata-kata apa yang “baik” tetapi tidak melakukannya. By: Totty

Kebinasaan Si Pencari Muka

Kebinasaan Si Pencari Muka
(2 Samuel 1:1-16)

2 Samuel pasal 1:1-16 menceritakan tentang nasib tragis orang muda yang adalah si pencari muka. Orang muda berdarah Amalek, datang kepada Daud dan dengan penuh keyakinan dia meceritakan bahwa dialah pembunuh raja Saul, yang terus mengejar dan berusaha membubuh Daud. Orang muda ini berpikir bahwa dengan mengatakan demikian ia akan mendapat pujian dari Daud, bahkan mungkin kelak dia akan mendapatkan hadiah dan kedudukan dalam pemerintahan Daud. Namun, tanpa disadarinya bahwa kematian sedang menantinya.
Orang muda dalam kisah ini adalah seorang penipu. Mengapa? Karena ayat 2 mengatakan bahwa ada seorang dari tentara, dari pihak Saul, yang datang menemui Duad di Ziklag. Namun pada waktu Daud bertanya kepadanya: “Dari manakah engkau?” Dia menjawab: “Aku lolos dari tentara Israel,” seolah-olah dia bukan dari tentara Israel. Ketika ditanya untuk ketiga kalinya oleh Daud, “Bagaimana engkau ketahui bahwa Saul dan Yonatan anaknya, juga sudah mati?” Disinilah dia mencari muka di hadapan Daud dengan mengatakan bahwa dialah yang telah membunuh raja Saul dan yang mengambil jejamang yang ada di kepalanya dan gelang yang ada pada lengannya dan membawanya kepada Daud. Ia mengatakan, “dan inilah dia kubawa kepada tuanku.” Inilah penipu! Inilah pencari muka! Dia berpikir bahwa pasti Daud senang dan akan memuji dia karena telah membunuh raja Saul. Dia berpikir bahwa dia sudah sangat berjasa menyelamatkan nyawa Daud dari tangan raja Saul.
Penipuan orang muda ini semakin nyata dalam hal bagaimana Saul tewas. Ia mengatakan bahwa Saul bertelekan pada tombaknya, Saul menoleh ke belakang dan melihat dia, memanggil dia dan bertanya kepadanya: siapakah engkau? Saul berkata: datanglah ke mari dan bunuhlah aku, karena kekejangan telah menyerang aku, tetapi aku masih bernyawa (ayat 6-9). Aku datang dan membunuhnya, kata orang muda itu. Betapa dia merekayasa kematian seorang raja demi kepentingannya sendiri. Padahal dalam 1 Samuel 31 jelas bahwa raja Saul tewas ketika dia sendiri menajtuhkan dirinya keatas pedangnya. Hal ini dilakukannya karena dia telah meminta pembawa senjatanya untuk membunuhnya tetapi pembawa senjatanya segan. Dan raja Saul tidak mau mati oleh tangan orang-orang Filistin (1 Samuel 31:4-5).
Si Penipu dan pencari muka ini juga mencelakakan dirinya dengan mengatakan bahwa dia adalah orang Amalek, padahal orang Amalek adalah musuh orang Israel. Tidak diketahui dengan pasti kalau memang dia keturunan Amalek atau Israel. Tetapi bisa saja dia menipu.
Apa yang diinginkannya tidak tercapai, sebaliknya dia mengalami nasib yang sama dengan raja Saul. Kebahagiaan yang diinginkan, namun kebinasaan yang diperoleh. Kehidupan yang diharapkan, namun kematian yang diterima. Itulah buah dari si pencari muka. Daud berkata: Paranglah dia, karena dia telah membunuh raja yang diurapi Tuhan. Daud memiliki kesempatan dua kali untuk membunuh Saul, tetapi dia tidak mau menjamah orang yang diurapi Tuhan. Kok seorang Amalek berani membunuh raja yang diurapi Tuhan?
Semua orang Kristen di abad 21 ini perlu belajar firman Tuhan dalam kisah ini agar tidak menjadi orang yang kesukaannya adalah mencari muka di depan orang lain, namun tidak mencari kehendak Tuhan. Ada beberapa alasan mengapa orang lebih suka mencari muka di depan orang lain atau menjadi penjilat, antara lain karena faktor ekonomi, demi mendapatkan jabatan, demi gengsi, agar dipandang sebagai orang yang paling berjasa, dan lain-lain. Berbarengan dengan itu, justru ada beberapa hal yang tidak baik ketika menjadi seorang pencari muka atau penjilat yaitu:
1. Menjadi penipu dan mengorbankan kebenaran. Hal ini nyata dalam nas 2 Samuel 1 ini bahwa si pencari muka menipu dan mengorbankan kebenaran.
2. Pencari muka atau penjilat cenderung mencari keuntungan untuk dirinya sendiri. Entah itu keuntungan materi, atau pun keuntungan dalam hal popularitas. Si pencari muka lebih mengutamakan egonya dari pada sesamanya. Karena itu juga, si pencari muka tidak tanggung-tanggung mengkhianati dan menjual sesamanya atau kawan kerjanya.
3. Menjadi orang yang plin-plan atau plintat-plintut, tidak konsisten dan cenderung opurtunis (cenderung memperkaya diri sndiri). Tidak memperjuangkan sesuatu karena prinsip, tetapi karena embel-embelnya.
4. Sering mengekor kepada orang yang dicari mukanya, walaupun tidak didapatkan hatinya.
5. Jarang atau tidak berani menantang orang yang kepadanya ia mencari muka.
6. Secara tidak sadar menciptakan dirinya menjadi manusia bermental “yes man” atau “yes sir”
Kita dapat melihat hal-hal di atas dalam kehidupan bergereja dan bermasyarakat. Kadang kala terasa lucu dan menggelikan ketika menyaksikan orang yang mencari muka di depan orang lain. Kita tidak perlu mencari muka orang lain. Yang perlu dan lebih penting adalah mencari hati dan kehendak Tuhan. Kita perlu bicara terus terang, blak-blakan, ikhlas dan jujur. Semoga setiap insan dalam wadah SETIA dan GKSI, mulai dari Rektor, staf, dosen, mahasiswa, ketua Sinode, ketua BPW, Korsek, Pendeta, Guru Injil, Penatua, Diaken dan semua hamba Tuhan GKSI dan almuni SETIA, serta semua mahasiswa SETIA dan jemaat GKSI tidak ada yang mencari muka di hadapan manusia baik itu pimpinan ataupun donatur, karena akhir dari si Pencari muka adalah KEBINASAAN. (Pdt. Martinus Manek Nikan, M.Div)

Minggu, 01 Agustus 2010

Pilar-pilar Yudaisme Periode Bait Allah Kedua

by Ioanes Rakhmat

Ada berbagai macam Yudaisme (Ioudaismos, lihat 2 Makabe 2:21; 8:1; 14:38) pada saat kekristenan perdana (early Christianity) bermunculan. Yang akan diulas dalam tulisan ini adalah Yudaisme yang dianut oleh orang-orang Yahudi sebelum tahun 70, tahun berakhirnya Perang Yahudi I melawan Roma (66-70), dengan akibat hancurnya Bait Allah kedua. Yudaisme kurun ini dinamakan Yudaisme Bait Allah kedua (second-Temple Judaism). Meskipun beragam, berbagai macam Yudaisme itu memiliki sejumlah unsur bersama yang dapat disebut sebagai pilar-pilar Yudaisme yang menopang bangunan agama Yahudi. Dalam tulisan ini pilar-pilar Yudaisme ini akan dipaparkan dengan padat dan singkat. Setelah pemaparan ini, akan diperlihatkan bagaimana kekristenan Perjanjian Baru (yang sebetulnya juga tidak monolitis) memberi respons pada pilar-pilar Yudaisme ini.

I. Empat pilar agama Yahudi
Yudaisme kurun pra-70 dibangun di atas topangan sedikitnya empat pilar utama: 1) monoteisme (Allah itu satu); 2) pemilihan (Israel sebagai suatu umat perjanjian; dan suatu tanah yang dijanjikan); 3) perjanjian antara Allah dan Israel yang berpusat pada Taurat; 4) tanah yang berpusat pada Bait Allah./1/

1) Monoteisme Yahudi
Monoteisme merupakan pilar mendasar yang mutlak bagi agama Yahudi di masa kehidupan Yesus. Setiap hari, setiap orang Yahudi telah diajar untuk mengucapkan shema (= “Dengarlah”): “Dengarlah, hai orang Israel: TUHAN itu Allah kita, TUHAN itu esa!” (Ulangan 6:4). Berdasarkan Ulangan 6:7, seorang mukmin Yahudi mengucapkan shema dua kali sehari. Begitu juga, Sepuluh Perintah Allah dalam Keluaran 20 dimulai dengan perintah pertama yang juga menegaskan keharusan Israel untuk menyembah hanya satu Allah: “Jangan ada padamu allah lain di hadapan-Ku” (Keluaran 20:3). Dalam m.Tamid 5.1, orang Israel diharuskan untuk mengucapkan shema dan perintah pertama ini setiap hari. Yosefus, seorang sejarawan Yahudi, dalam salah satu karyanya menyatakan, “Bahwa Allah itu esa, adalah pandangan yang umum dipegang semua orang Ibrani” (Antiquities 5.1, 27, 112). Filo dalam De Decalogo 65 juga menekankan bahwa orang Israel harus mengakui dan menghormati hanya satu Allah yang ada di atas segalanya. Seorang Yahudi, Sibyl, menyatakan dengan jelas, “Dia saja Allah dan tidak ada yang lain” (Orakulum Sibyl 3.629).

2) Pemilihan (Israel sebagai suatu umat perjanjian; dan suatu tanah yang dijanjikan)
Yang juga sama mendasarnya bagi pemahaman diri Israel adalah keyakinan mereka bahwa mereka telah secara khusus dipilih oleh Allah dari antara segala bangsa, bahwa Allah yang esa dan satu-satunya telah mengikatkan diri-Nya dengan Israel dan Israel dengan diri-Nya melalui suatu ikatan perjanjian. Allah sudah mengawali ikatan perjanjian ini dengan Abraham/Ibrahim, yang disertai dengan janji pemberian tanah kepadanya dan kepada keturunannya (Kejadian 12:1-3; 15:1-6; 15:17-21; 17:1-8). Dalam Ulangan 7:6 termuat ucapan Allah kepada Israel, “Sebab engkaulah umat yang kudus bagi TUHAN, Allahmu; engkaulah yang dipilih oleh TUHAN, Allahmu, dari segala bangsa di atas muka bumi untuk menjadi umat kesayangan-Nya.” Ucapan ini didahului oleh perintah Tuhan supaya Israel membersihkan tanah yang dijanjikan-Nya dari semua bangsa yang menjadi penghuninya semula dan menghindari hubungan apapun dengan mereka (7:1-7); dan dalam 6:20-25; 26:5-10 ditekankan bahwa Allah telah berprakarsa membebaskan Israel dari perbudakan di Mesir dan menjanjikan mereka lewat nenek moyang mereka tanah untuk mereka.

Status sebagai umat pilihan Allah, serta tanah yang dijanjikan kepada mereka, dan keharusan untuk Israel hidup murni dan tak bercampur dengan bangsa lain, diulang-ulang dalam banyak dokumen suci Yahudi lainnya, kanonik dan ekstra-kanonik, sampai ke kurun Bait Allah Kedua (lihat antara lain Ulangan 32:9; 1 Raja-raja 8:51, 53; 2 Raja-raja 21:14; Mazmur 33:12; 74:2; Yesaya 41:8-9; 44:1; 63:17; Yeremia 10:16; Mikha 7:18; Yudit 13:5; Sirakh 24:8, 12; Yobel 1:19-21; 15:31-32; 22:9-10, 15; 33:20; Mazmur-mazmur Salomo 9:8-9; 3 Makabe 6:3; 2 Barukh 5:1; Pseudo-Filo 12:9; 21:10; 27:7; 28:2; 39:7; 49:6; Roma 4:13; 9:4).

Perlu dicatat bahwa kekuatan pemberontakan Makabe pada abad 2 SM (167-142 SM) melawan asimilasi nasional dan kebudayaan melalui helenisasi (=Yunanisasi) besar-besaran oleh Raja Syria, Antiokhus IV Epifanes, didorong persisnya oleh keyakinan bahwa Israel adalah umat pilihan Allah satu-satunya dan tanah mereka adalah tanah suci yang dijanjikan Allah. Sebutan Yudaisme (Yunani: Ioudaismos) dijumpai pertama kali dalam 2 Makabe 2:21; 8:1; 14:38, dan setiap sebutan ini muncul dalam konteks perbincangan mengenai kegigihan Israel dan kesetiaan mereka untuk membela Yudaisme sebagaimana diperlihatkan oleh para pejuang Makabe dalam melawan helenisme. Perlawanan oleh Yudas dari Galilea pada tahun 6 M dan kemudian oleh kalangan Zelotes dalam akhir Perang Yahudi I melawan Roma juga dimotivasi oleh hal yang sama.

3) Perjanjian yang berpusat pada Taurat
Dalam kesadaran diri Israel sebagai bangsa pilihan Allah, Taurat menempati kedudukan sangat penting dan menentukan. Hal ini paling jelas diungkapkan dalam kitab Ulangan. Bagian terpenting kitab ini (Ulangan 5-28) memuat pernyataan kembali perjanjian Allah dan Israel yang dibuat di Horeb/Sinai (5:2-3). Seluruh batang tubuh pengajaran/hukum yang disampaikan dalam pasal 5 sampai pasal 28 dirangkum dalam 29:1, demikian, “Inilah perkataan perjanjian yang diikat Musa dengan orang Israel di tanah Moab sesuai dengan perintah TUHAN, selain perjanjian yang telah diikat-Nya dengan mereka di gunung Horeb.”

Dalam seluruh kitab Ulangan, perjanjian yang diikat Allah dengan Israel ditegaskan dan diperkuat; dan Taurat (atau hukum/ketetapan/peraturan) diberikan sebagai bagian dari perjanjian itu. Sebagai respons orang Israel terhadap ikatan perjanjian itu, yang menjadikan mereka umat khusus kepunyaan Allah, mereka harus menaati Taurat dengan sepenuh hati mereka, dengan seluruh cara kehidupan mereka sebagai umat perjanjian. Ada janji dan peringatan yang disampaikan kepada mereka sementara mereka menjalani kehidupan mereka: apakah mereka akan menaati Taurat, ataukah tidak. Pada Ulangan 4:1 ditegaskan, “Maka sekarang, hai orang Israel, dengarlah ketetapan dan peraturan yang kuajarkan kepadamu untuk dilakukan, supaya kamu hidup dan memasuki serta menduduki negeri yang diberikan kepadamu oleh TUHAN, Allah nenek moyangmu” (lihat juga 4:10, 40; 5:29-33; 6:1-2, 18, 24; 7:12-13; dsb.). Jika Israel melakukan perintah Taurat atau hukum Allah (4:8; 32:46) atau kelima kitab Musa (30:10), mereka akan hidup dan menerima berkat Allah; jika mereka tidak melaksanakan Taurat, mereka akan terkena kutuk (Ulangan 28:1-6, 15 dyb).

Ketaatan Israel pada Taurat menjadi ciri khas mereka sebagai umat istimewa pilihan Allah yang dengan mereka Allah telah mengikat perjanjian. Setidaknya ada 3 hal penting yang menjadi ciri mereka sebagai umat istimewa pilihan Allah: sunat lahiriah, perayaan Sabat, dan aturan tentang makanan yang halal dan makanan yang haram.

4) Tanah Israel yang berpusat pada Bait Allah
Dalam kehidupan yang dijalani Israel di tanah yang dijanjikan, yang diisi dengan ketaatan pada Taurat, Bait Allah di Yerusalem merupakan pusat kehidupan nasional dan keagamaan mereka. Bahkan lebih luas dari itu, bagi Israel, kota Yerusalem, Bukit Zion, dan Bait Allah di dalamnya adalah pusat jagat raya, axis mundi (lihat Yobel 8:19; Orakulum Sibyl 5.248-50). Bait Allah memikul beberapa fungsi bagi kehidupan nasional Israel. Pertama, Bait Allah adalah suatu sentra politis, dan ini menjadikan Yudea sebagai negara Bait atau tanah Bait, maksudnya: Bait Allah di Yerusalem memberikan suatu alasan bagaimana kawasan Yudea menjadi suatu kawasan yang terpisah dan khusus di dalam wilayah luas Yunani-Romawi. Kedua, Bait Allah adalah suatu sentra ekonomis bagi kota Yerusalem dan Yudea, yang menarik orang dari kawasan lain untuk mendatangi Yerusalem, baik untuk kebutuhan keagamaan maupun untuk kebutuhan lain seperti kebutuhan perdagangan, finansial dan pembayaran pajak untuk menopang kelangsungan kehidupan Bait Allah. Dan, terakhir, Bait Allah adalah suatu sentra keagamaan.

Seluruh sistem pemberian kurban, kultus, pendamaian dan pengampunan, yang sangat mendasar bagi Yudaisme kurun Bait Allah Kedua, seluruhnya terfokus pada Bait Allah. Umat Allah dan tanah perjanjian, dan pelaksanaan Taurat, semuanya terfokus pada Bukit Zion, Yerusalem dan Bait Allah di dalamnya. Barangsiapa mengendalikan ketiganya, dia mengendalikan akses kepada Allah.

II. Respons kekristenan terhadap empat pilar Yudaisme

1) Respons kekristenan terhadap monoteisme teologis
Dalam Injil Yohanes terlihat tahap-tahap paling awal dari pemisahan kekristenan dari Yudaisme di dalam suatu kawasan lokal tertentu, kelihatannya entah di Galilea atau di tempat lain yang dekat dengannya, dan permusuhan tajam yang ditimbulkan oleh pemisahan ini./2/ Penyebab akar dari pemisahan ini adalah kristologi, menyangkut pertanyaan apakah Yesus itu sang Mesias Yahudi yang dinantikan. Orang Yahudi yang mengakui Yesus sebagai sang Mesias dikucilkan dari sinagog (aposunagōgos; lihat Yohanes 9:22; 12:42; 16:2), sebab, dalam pandangan otoritas Yahudi di tempat tinggal komunitas Yohanes, Yesus sama sekali bukan sang Mesias Yahudi karena Yesus tidak memenuhi persyaratan sebagai seorang Mesias.

Pengucilan ini pada akhirnya/3/diberi reaksi oleh komunitas Yohanes berupa pengajuan kristologi “dari atas” (high christology) yang menggambarkan Yesus Kristus sebagai suatu hakikat ilahi (sang Firman/ho logos) yang datang “dari atas/surga”, masuk ke dalam dunia melalui inkarnasi (=menjadi daging [sarks egeneto]) (Yohanes 1:14a). Pada poin inilah terletak masalahnya. Dalam pemikiran kristologi “dari atas”, Yesus menjadi suatu hakikat ilahi yang memiliki pra-eksistensi: Yesus sebagai sang Firman (ho logos) yang sudah ada “pada mulanya” dan ada “bersama-sama dengan Allah” dan “adalah Allah” (Yohanes 1:1-2), dan “segala sesuatu dijadikan oleh Dia dan tanpa Dia tidak ada suatu pun yang telah jadi dari segala yang telah dijadikan” (Yohanes 1:3)./4/ Selain memakai figur sang Firman, kristologi “dari atas” dalam Injil Yohanes juga memakai figur “Anak Manusia” yang berasal-usul dari surga, lalu melalui inkarnasi (6:51), masuk ke dalam dunia dan mengambil wujud manusia Yesus dari Nazaret. Figur “Anak Manusia surgawi” ini dikatakan lebih rendah (subordinat) dari Allah (14:28), namun juga “satu” dengan Allah (10:30)./5/

Pada masa Injil Yohanes ditulis (tahun 90/100), trinitarianisme (atau tritunggalisme) belum dirumuskan; dengan demikian, para rabi Yahudi pada kurun pasca-70 menilai kristologi “dari atas” ini telah melahirkan diteisme: ada dua penguasa di surga, yakni Allah dan sang Firman atau sang Anak Manusia. Bagi mereka, kristologi “dari atas” Injil Yohanes telah melanggar monoteisme teologis yang dipertahankan kuat-kuat oleh Yudaisme. Dilihat dari sudut pandang Yahudi, dengan menyetarakan Yesus dengan Allah, kekristenan telah membuat diskontinuitas antara dirinya dengan Yudaisme, meskipun kekristenan (mazhab Yohanes) tetap mempertahankan kepercayaan monoteistik (lihat Yohanes 17:3; bdk. juga 1 Korintus 8:4-6; Yakobus 2:19; 1 Timotius 2:5), persisnya monoteisme kristologis. Monoteisme dipertahankan komunitas Yohanes dengan jalan membuat diversitas atau pluralitas di dalam hakikat Allah yang satu: sang Firman berada “bersama-sama dengan Allah”; ini berarti ada pembedaan di antara keduanya. Sang Firman “adalah Allah”; ini berarti ada kesatuan di antara keduanya. Kesatuan dan pembedaan ini hanya mungkin dibayangkan jika orang menerima adanya diversitas atau pluralitas di dalam hakikat Allah yang esa: Allah YME di dalam diri-Nya sendiri majemuk!

2) Respons kekristenan terhadap pemilihan Israel dan tanah Israel sebagai tanah perjanjian

Etnosentrisme Yahudi (= keterpusatan pada etnis Yahudi) yang dipertahankan Yudaisme dan kekristenan Yahudi perdana (khususnya Gereja Induk Yerusalem yang dipimpin 3 soko guru: Yakobus, Petrus, dan Yohanes) ditolak 0leh kekristenan helenistik yang terdiri atas bangsa-bangsa bukan-Yahudi. Dalam hal ini, diskontinuitas antara kedua agama ini sangat tajam. Gerd Theissen menyatakan, dalam teologi Paulus terjadi transisi dari Yudaisme sebagai agama nasional etnis Yahudi ke kekristenan sebagai agama universal yang menyerap berbagai etnisitas. Tandasnya, Rasul Paulus adalah figur yang sangat penting dan menentukan dalam terpisahnya agama Kristen dari agama Yahudi; kekristenan yang disusun Paulus adalah Yudaisme yang ditransformasi secara karismatik personal dengan dimunculkannya Yesus sebagai sang Mesias Kristen; sedangkan Yudaisme rabinik, sebaliknya, adalah suatu Yudaisme yang dikembangkan berdasarkan penafsiran legalistik atas tradisi tua Taurat./6/

Kekalahan bangsa Yahudi dalam Perang Yahudi I melawan Roma (tahun 66-70), dan sikap Roma yang semakin represif terhadap bangsa Yahudi yang baru dikalahkan dalam pemberontakan mereka, ikut berperan dalam membentuk sikap anti-Yahudi dalam kekristenan non-Yahudi yang tersebar di dunia Yunani-Romawi di luar Palestina, sikap bermusuhan yang diarahkan kepada Yudaisme rabinik. Memasuki abad ke-2, orang Kristen bukan-Yahudi secara bertahap mengalami pertumbuhan kesadaran sebagai suatu “bangsa ketiga” berhadapan dengan bangsa Yahudi dan bangsa kafir; dan orang Kristen mulai juga memandang diri sebagai “Israel sejati”, umat zaman akhir yang diperluas, yang tersebar di dunia bangsa-bangsa, dan yang tidak terikat lagi pada batas-batas tanah perjanjian Palestina. Tetapi, ketika kekristenan non-Yahudi memandang diri mereka sebagai “bangsa” yang terpisah, mereka pun terjatuh ke dalam rasialisme yang sama dengan etnosentrisitas Israel, ketika mereka mengeluarkan bangsa Yahudi dari persekutuan keluarga besar mereka yang beragam./7/

Bersamaan dengan memandang diri sendiri sebagai “umat perjanjian yang baru”, yang dibangun oleh Yesus sebagai sang Mesias Kristen, kekristenan helenistik pun memahami Kitab Suci Ibrani, Tenakh (Taurat, Nabi-nabi, dan Khetubim/kitab-kitab), dari sudut pandang Kitab Suci Perjanjian Baru, sekaligus memberi penilaian teologis terhadap Tenakh sebagai Perjanjian Lama yang sudah usang (yang dibuat antara Allah dan Musa pada zaman dulu) dan karena itu harus direvitalisasi dan disegarkan kembali dengan menafsirkannya dari sudut pandang Perjanjian Baru (=perjanjian yang dibuat antara Allah dan Yesus Kristus). Ini adalah suatu posisi hermeneutik Kristen yang berbenturan dengan posisi hermeneutik Yahudi yang menafsir masa depan dengan bertitik-tolak dari Tenakh.

3) Respons kekristenan terhadap keutamaan Taurat

Meskipun Rasul Paulus dalam surat Roma (14-15:13) memberi tempat penting bagi pengamalan Taurat dalam komunitas Kristen non-Yahudi yang anggota-anggotanya saling menghormati orang yang berbeda, dan menyatakan bahwa Kristus adalah kegenapan hukum Taurat (10:4), dan bahwa “hukum Taurat adalah kudus, dan perintah itu juga adalah kudus, benar dan baik” (7:12), namun pada bagian-bagian lain dari tulisan-tulisannya yang lain dia sangat kuat menolak hukum Taurat. Katanya, “Aku sendiri tidak hidup di bawah hukum Taurat …, karena aku hidup di bawah hukum Kristus” (1 Korintus 9:20-21). Bahkan dalam Roma 7:10, dia menyatakan, “Perintah yang seharusnya membawa kepada hidup, ternyata bagiku justru membawa kepada kematian.” Lagi tandasnya, “Sebab hukum yang tertulis mematikan, tetapi Roh menghidupkan” (2 Korintus 3:6); dan “Semua orang yang hidup dari pekerjaan hukum Taurat (ta erga tou nomou) berada di bawah kutuk” (Galatia 3:10a). Bagi Paulus, sebelum iman kepada Kristus datang dan dimungkinkan, hukum Taurat memang memiliki fungsi sebagai “pengawal” dan “penuntun” (paidagōgos); tetapi ketika iman (hē pistis) telah datang, orang “tidak lagi berada di bawah pengawasan penuntun” (Galatia 3:23-25). Selama orang masih berada di bawah hukum Taurat, dosa berkuasa atas dirinya; tetapi kalau orang sudah di bawah karunia Allah melalui iman kepada Yesus Kristus, dia sudah dibebaskan dari dosa. Kata Paulus, “Kamu tidak akan dikuasai lagi oleh dosa, karena kamu tidak berada di bawah hukum Taurat, tetapi di bawah kasih karunia” (Roma 6:14). Jelas, bagi Paulus, “Hukum Musa tidak pernah diberikan untuk menghasilkan kebenaran dan kehidupan; tapi hukum ini diberikan untuk menunjukkan dosa dan untuk menghukum kita, sampai datang kehidupan baru dan pembebasan di dalam Kristus”/8/ (lihat Roma 7-8).

Kendatipun dalam Injil Matius, seperti diperlihatkan Dale C. Allison, Jr., terdapat banyak paralelisme antara Musa dan Yesus, namun, dalam Injil ini Yesus digambarkan mengungguli Musa Perjanjian Lama. Sebagaimana Yesus lebih besar dari Bait Allah dan dari Nabi Yunus dan dari Salomo (12:6, 41-42), maka Yesus pun lebih besar dari Musa./9/ Bagi penulis Injil ini, Taurat Musa telah digenapi oleh hukum yang diberikan Yesus (Matius 5:17-20),/10/ dengan cara “mengkristenkan” baik Taurat Musa maupun diri Musa sendiri,/11/ sehingga muncullah Musa yang baru, yaitu Yesus, yang membawa hukum baru yang isinya adalah seluruh Injil Matius sendiri yang merupakan “Taurat” Kristen, khususnya Khotbah di Bukit sebagai “Taurat baru yang selamanya valid.”/12/ Dengan demikian, Taurat Musa diganti dengan Taurat baru yang merupakan penggenapannya, untuk umat yang baru, yang dibangun oleh Musa yang baru, yaitu Yesus, yang kedudukannya lebih tinggi dari Musa Perjanjian Lama. Tanpa Yesus sebagai Musa yang baru, Taurat Yahudi selamanya tidak pernah genap, tidak pernah sempurna, tidak pernah mencapai tujuannya. Ini adalah suatu superiorisme kekristenan Matius berhadapan dengan Yudaisme yang berpusat pada Taurat Musa.

Jadi, Taurat Musa tidak diterima dan diikuti secara harfiah seluruhnya oleh kekristenan; bahkan Paulus cenderung menolak kuat validitas Taurat bagi kekristenan yang dia bangun. Yang paling drastis membatalkan Taurat Musa, dengan menggantikannya dengan pengajaran Yesus dan diri Yesus sendiri sebagai satu-satunya pengejawantahan sang Firman/Taurat, adalah Injil Yohanes.

Paling jauh, Taurat ditafsir ulang dari sudut pandang Kristen, dan hasil penafsiran Kristen ini dipandang, oleh komunitas Kristen-Yahudi Matius, sebagai penggenapan Taurat Musa, penggenapan yang dilakukan oleh Yesus sebagai Musa yang baru dengan hukum yang baru, hukum kasih (Matius 22:37-39), dan Khotbah di Bukit. Dengan demikian, dapat dikatakan, sehubungan dengan pandangan Kristen terhadap Taurat Musa, terdapat diskontinuitas yang jelas antara agama Yahudi dan agama Kristen. Penafsiran baru atas Taurat yang dilakukan penulis Perjanjian Baru tidak lantas memunculkan kontinuitas antara kedua agama ini./13/

4) Respons kekristenan terhadap Bait Allah

Suatu segi yang konsisten meskipun tidak umum dalam teologi Kristen perdana adalah, selain kecaman terhadap validitas Taurat Musa, perlawanan terhadap Bait Allah. Kritik tajam kekristenan terhadap Bait Allah adalah bahwa Bait Allah di Yerusalem “dibuat oleh tangan manusia” (kheiropoiētos)./14/ Kritik ini sudah dimulai oleh Yesus sendiri, ketika dia menyerang Bait Allah secara simbolik (Markus 11:15-19) dan menyatakan, seperti dikutip para saksi ketika Yesus diadili di hadapan Mahkamah Agama, “Aku akan merubuhkan Bait Suci buatan tangan manusia ini dan dalam tiga hari akan Kudirikan yang lain, yang bukan buatan tangan manusia” (Markus 14:58; 15:29). Penyerangan terhadap Bait Allah yang dilakukan Yesus adalah salah satu sebab mengapa orang Yahudi tidak bisa menerima Yesus sebagai sang Mesias, sebab, dalam tradisi Yahudi (dalam Kitab Suci Ibrani, Pseudepigrafa, dan Apokrifa) tidak ada seorang Mesias Yahudi yang dengan terbuka menyerang Bait Suci; justru adalah tugas seorang Mesias untuk menjaga, mempertahankan dan melindungi Bait Allah supaya tidak diganggu-gugat oleh siapapun./15/

Stefanus juga melancarkan kritik tajam yang sama terhadap Bait Allah di Yerusalem sebagai buatan tangan manusia sebelum dia mati syahid dirajam (Kisah Para Rasul 7:47-48). Dalam surat Ibrani 9:11 dan 24, dinyatakan bahwa Bait Allah yang dibuat tangan manusia tidaklah sempurna. Dalam 1 Korintus 3:16, Rasul Paulus menyebut orang Kristen sebagai Bait Allah (karena Roh Allah berdiam dalam diri mereka), dan dengan begitu dia tersirat merelativisir Bait Allah di Yerusalem. Rasul Paulus dalam surat 2 Korintus menyebut suatu tempat kediaman di surga, suatu tempat kediaman yang kekal, yang tidak dibuat oleh tangan manusia (5:1); dengan dia menyebut tempat kediaman “yang tidak dibuat oleh tangan manusia”, kelihatanlah bahwa dia mengetahui polemik Kristen versus Yahudi mengenai Bait Allah sebagai rumah buatan tangan manusia.

Ringkas kata, sejauh menyangkut Bait Allah, posisi para penulis Perjanjian Baru sudah jelas: Bait Allah tidak relevan lagi bagi kekristenan. Hancurnya Bait Allah di Yerusalem pada tahun 70 pada akhir Perang Yahudi I melawan Roma dilihat sebagai suatu tanda bahwa Allah telah menolak dan tidak mengakui Israel lagi./16/ Seorang pemimpin gereja pada abad ke-4, Eusebius, melihat kehancuran Bait Allah dan kebinasaan Yerusalem di akhir perang Yahudi melawan Roma (66-70) sebagai suatu penghukuman Allah atas bangsa Yahudi yang (menurutnya) telah berbuat keji terhadap Yesus dan para rasulnya (Sejarah Gereja III,5,2f).

III. Penutup

Respons yang diperlihatkan kekristenan perdana Perjanjian Baru terhadap empat pilar keyakinan Yahudi menunjukkan bahwa diskontinuitas antara agama Yahudi dan agama Kristen begitu tajam dan luas. Dengan adanya diskontinuitas ini, kekristenan perdana Perjanjian Baru dapat mengklaim diri sebagai agama yang mengungguli agama Yahudi, bahkan menafikannya, dan dapat melihat dirinya sendiri unik. Dari diskontinuitas ini, dan dari klaim kekristenan perdana sebagai komunitas yang lebih unggul dibandingkan komunitas Yahudi, dan (harus dicatat!) dari kemenangan politis mereka pada era Kaisar Konstantinus Agung di abad ke-4 dan pada saat Kaisar Theodosius pada tahun 381 mengeluarkan dekrit bahwa orang yang memeluk agama yang tidak diakui negara [yakni kekristenan Arius, yang sedang berkonfrontasi dengan kekristenan Athanasius] adalah orang yang melawan negara, tidaklah berlebihan jika dikatakan lahir anti-Semitisme yang membawa maut pada zaman modern di Eropa ketika Jerman dikuasai Hitler.

Karena itu, untuk menghindari berulangnya tragedi kemanusiaan ini, masing-masing pihak, Yahudi dan Kristen, perlu terus mencari titik-titik temu di antara kedua agama ini, baik dalam sejarah di masa lampau maupun dalam merancang dan membangun masa depan. Salah satu langkah untuk mencari titik temu adalah dengan menyelidiki figur Yesus sejarah (the historical Jesus) sebagai seorang mukmin Yahudi sekaligus sebagai pendiri komunitas kerajaan Allah yang kemudian menjadi gereja Kristen Yahudi perdana yang mula-mula (sebelum tahun 70) berpusat di Yerusalem sebagai Gereja Induk (= kekristenan Yahudi, Judeo-christianity). Selain itu, dialog empatetis di antara penganut agama Yahudi dan orang Kristen pada masa kini harus dilakukan, agar keduanya dapat bertemu dan dari pertemuan ini lahir hal-hal yang dapat mendatangkan kebahagiaan dan kedamaian dalam dunia ini.

Catatan-catatan

/1/ Selengkapnya, lihat James D.G. Dunn, The Partings of the Ways Between Christianity and Judaism and Their Significance for the Character of Christianity (London/Philadelphia: SCM Press/Trinity Press International, 19911) 18-36. Tentang hal yang sama, E.P. Sanders, dalam bukunya, Judaism: Practice and Belief 63 BCE-66 CE (London/Philadelphia: SCM Press/Trinity Press International, 1992) berbicara tentang Yudaisme “umum” atau Yudaisme “normal” atau Yudaisme “normatif”; menurutnya, ada empat fokus dari Yudaisme pada umumnya: Bait Allah, sinagog (atau rumah doa), rumah atau kampung halaman (tanah Palestina), dan teologi yang mencakup kepercayaan pada Allah yang esa (monoteisme), hukum Taurat, status Israel sebagai bangsa pilihan.

/2/ Jack T. Sanders, Schismatics, Sectarians, Dissidents, Deviants: The First One Hundred Years of Jewish-Christian Relations (London: SCM Press, 1993) 40.

/3/ Mengenai tahap-tahap historis yang dilalui komunitas Yohanes sampai kristologi “dari atas” diajukan sebagai reaksi terhadap keadaan-keadaan sosial-politis yang dialami komunitas ini, lihat J. Louis Martyn, History and Theology in the Fourth Gospel (Nashville: Abingdon, 19792); idem, The Gospel of John in Christian Theology. Essays for Interpreters (New York, etc.: Paulist Press, 1978); Raymond E. Brown, The Community of the Beloved Disciple: The Life, Loves, and Hates of An Individual Church in the New Testament Times (London: Geoffrey Chapman, 1979). Lihat juga Ioanes Rakhmat, Yesus, Maria Magdalena, Yudas, dan Makam Keluarga (Tangerang: Sirao Credentia Center, 2007) bab 9: Eksklusivisme Yohanes 14:6― Apakah suatu Penghalang bagi Pluralisme?, 225-65.

/4/ Mendahului Injil Yohanes, Rasul Paulus di tahun 50-an sudah memandang Yesus Kristus sebagai “agen penciptaan”, yakni sebagai Oknum ilahi “yang melalui-Nya segala sesuatu telah dijadikan” (1 Korintus 8:5-6). Uraian eksegetis teks ini, lihat Ioanes Rakhmat, Yesus, Maria Magdalena, bab 6: Yesus sebagai Tuhan: Sebuah Kajian Eksegetis dan Refleksi Kritis, 123-49.

/5/ Lebih jauh tentang subordinasionisme ini, lihat Ioanes Rakhmat, “Kristologi ‘Anak Manusia’ di dalam Injil Yohanes dan Monoteisme Yahudi” dalam Ihromi (ed.), Dalam Kemurahan Allah. Kumpulan Karangan dalam Rangka Dies Natalis STT Jakarta ke-60, 1994 (Jakarta: Gunung Mulia) 55-72.

/6/ Gerd Theissen, Social Reality and the Christians: Theology, Ethics, and the World of the New Testament. Penerjemah: Margaret Kohl (Edinburgh: T&T Clark, 1993) 206, 219, 226 [202-227]. Theissen sebetulnya menempatkan kekristenan perdana dalam tiga model: kekristenan sebagai agama yang paralel dengan Yudaisme; kekristenan sebagai suatu Yudaisme yang dibuka dan dilepaskan dari hambatan-hambatan yang dibuatnya; dan kekristenan sebagai suatu Yudaisme yang ditransformasi, sebagaimana terdapat dalam kekristenan Paulus.

/7/James D.G. Dunn, Partings of the Ways, 248.

/8/ David Wenham, Paul: Follower of Jesus or Founder of Christianity? (Grand Rapids: W.B. Eerdmans Publishing Co., 1995) 227.

/9/ Dale C. Allison, Jr., The New Moses: A Matthean Typology (Minneapolis: Fortress Press, 1993) 274-77.

/10/ Menurut Geza Vermes, The Authentic Gospel of Jesus (London: Penguin Group, 2004), Matius 5:17-20 pada dasarnya memuat ucapan yang berasal dari Yesus sendiri (hlm. 355).

/11/ Allison, New Moses, 280.

/12/ Geza Vermes, The Authentic Gospel of Jesus, 355.

/13/ Seorang penulis Yahudi modern, David Klinghoffer, melihat penyebab utama orang Yahudi menolak Yesus adalah penolakan kekristenan terhadap Taurat yang diberikan Allah kepada orang Yahudi di Gunung Sinai. Lihat David Klinghoffer, Why the Jews Rejected Jesus: The Turning Point in Western History (New York: Doubleday, 2005) 213-20.

/14/ Jack T. Sanders, Schismatics, 96 [95-99, 230].

/15/ David Seeley, “Jesus’ Temple Act Revisited: A Response to P.M. Casey”, Catholic Biblical Quarterly 62/1 (2000) 61 [55-63]; idem, “Jesus’ Temple Act”, CBQ 55/2: 263-283; Marcus J. Borg, Conflict, Holiness, and Politics in the Teachings of Jesus (Studies in the Bible and Early Christianity 5; New York/Toronto: Mellen, 1984) 38 dyb., 55, 163-199; Ioanes Rakhmat, The Trial of Jesus in John Dominic Crossan’s Theory: A Critical and Comprehensive Evaluation (Jakarta: UPI STT Jakarta, 2005) 170.

/16/ James D.G. Dunn, Partings of the Ways, 255.

Minggu, 23 Mei 2010

DIVINE PROTECTION & DIVINE RIJECTION

DIVINE PROTECTION & DIVINE REJECTION
( PERLINDUNGAN ILAHI & PENOLAKAN ILAHI )
TAFSIRAN KITAB WAHYU11:1-2



I. PENDAHULUAN
Pada bagian pendahuluan ini akan menjelaskan latar belakang masalah dan menjawab secara singkat polemik yang muncul ketika menafsir kitab Wahyu, Terutama yang sampai sekarang menjadi perdebatan. Namun penulis hanya membatasi pada bagian yang dianggap penting dan mempengaruhi ketika menafsir Kitab Wahyu secara umum dan khususnya Wahyu 11:1-2. Pembahasan ini akan berorisetasi kepada pokok yang berkaitan dengan Penulis, penanggalan, catatan tambahan dan metode penafsiran. Walaupun demikian bagian yang lain juga penting, dan selalu dimunculkan oleh setiap teolog yang membahas kitab Wahyu.

A. LATAR BELAKANG MASALAH
Penulisan artikel Wahyu 11: 1-2 ini dilatarbelakangi pergumulan penulis ketika membaca dan mendengar penjelasan Kitab Wahyu dan khususnya bagian Wahyu 11:1-2. Dimana terjadi banyak perbedaan dalam penjelasan, yaitu sebagai berikut: Pertama, berkaitan dengan siapa penulis dan tahun penulisan. Kedua, sikap orang percaya terhadap kitab Wahyu, yang menjadikan bagian tertentu sebagai sebagai pokok khotbah tetapi ada yang dilompati karena dianggap sebagai bagian yang sulit, diantaranya Wahyu11:1-2 (Lilje:”One of the most difficult to interpret” and Alford:”crux interpretum”). Sehingga kitab Wahyu adalah kitab suci tetapi orang percaya gagal memakainya.
Ketiga, berkaitan perbedaan metode pedekatan yang penulis ketahui. Misalnya : Preteris, Historis, Futuris, Idealis, susunan Tabernakel (pengajaran atau Teologi Tabernakel) , dan Vision. Keempat, tentunya berdasarkan perbedaan hal-hal menghasilkan penafsiran yang berbeda-beda pula. Contohnya : ada yang menafsirkan Bait Suci sebagai Bait suci secara fisik , Bait suci diitafsirkan secara simbolis yaitu gereja (jemaat yang menyembah) , Bait Suci ditafsirkan sebagai orang percaya dalam terang Tabernakel, sehingga ada tingkatan kerohanian orang percaya . Maka tentunya membawa dampak-dampak yang logis bagi orang percaya. Misalnya: orang percaya harus mencapai tinggkatan tertentu jika ingin beroleh keselamatan, kalau tidak akibatnya kepercayaan mereka adalah sia-sia, menjadi murtad dan akhirnya menjadi anti-Kristus. Berkaitan dengan tingkatan tersebut di atas Pdt. Petrus Agung menyatakan “ itu adalah kenyataan yang kita hadapi”, pernyataan ini muncul ketika beliu membahas Bait Suci melalui rekontrusi kisah-kisah yang ditulis Alkitab dan kisah imajiner sebagai cara beliu menjelaskan. Dengan demikian sangatlah perlu bagi penulis yang melayani sebagai Penginjil dan dan Pengajar untuk memberi jawaban atas pergumulan di atas.

B. PENULIS
Bukan merupakan perihal baru jika siapa sebenarnya penulis kitab selalu mengakibatkan sebuah diskusi yang aktuil. Perihal itu terjadi demi mendapatkan hasil yang logis bagi setiap teolog, baik itu muncul atas dasar motivasi untuk mempertahankan keabsahan kitab tersebut atau bahkan sebaliknya. Demikian pula dengan kitab Wahyu, dimana terdapat latar belakang kesaksian Kristen yang berbeda yang dikarenakan adanya problem internal. Diantaranya adalah perbedaan pandangan tentang penulis kitab Wahyu. Dionysius dari Alexandria dan Papias yang mengatakan bahwa penulis kitab Wahyu berbeda dengan penulis Injil Yohanes dan Surat 1,2 dan 3 Yohanes. Namun untuk mencari solusi terbaik hendaknya tetap memegang prinsip rendah hati dan menghormati setiap bukti sejarah, terlebih bukti dari Kitab itu sendiri. Kemudian baru menyimpulkan sipakah penulis kitab tersebut dan khususnya kitab Wahyu. Sebab itu marilah memperhatikan dua bukti yang ada yaitu bukti eksternal dan internal:
1. Bukti Eksteral
Ada beberapa tokoh atau bapak-bapak Gereja yang menerima pandangan bahwa rasul Yohanes adalah penulis kitab ini, walaupun memang terdapat genre yang berbeda dari karyanya yaitu injil, surat-surat dan wahyu. Diantaranya adalah Justin Martyr, Irenaeus, Tertullianus, Clement dari Alexandria, Origenes, dan Hippolytus. Memang banyak bapak-bapak Gereja yang menerima pandangan ini, namun perlu diperhatikan bahwa kitab Wahyu, meski dengan segala dukungannya, mengalami pergumulan pengkanonan lebih lama dari kitab PB manapun. Akan tetapi, kitab Wahyu tidak ditolak terutama mengenai kepenulisannya, melainkan mengenai persoalan perspektif teologis yakni, berkaitan dengan chiliasme.
2. Bukti Internal
Ada dua argumentasi internal yang mendukung pandangan bahwa rasul Yohanes adalah penulis kitab Wahyu:
2.1 Dari kitab Wahyu.
Ada tiga bukti yang jelas dari kitab Wahyu yaitu: Pertama, Penulis dikenal dengan namanya saja oleh ketujuh jemaat yang menerima suratnya. Ini akan lebih dapat dipercaya jika tulisan tersebut memang ditulis oleh rasul Yohanes. Kedua, ia mengharapkan jemaat-jemaat tersebut memberi respon yang baik dan mentaati tulisannya, karena ia menyampaikannya dengan otoritas (lih. 1:3; 22:9, 18). Ketiga, meski ia menulis dalam bentuk gendre nubuatan gaya Yahudi kuno, ada satu keunikan dalam tulisannya: kalau tulisan nubuatan gaya Yahudi diasalkan pada orang-orang mulia jauh di masa lampau (misalnya, kepada Enoch, Ezra, Baruch), penulisnya disini dengan jelas menyatakan dirinya sebagai “Yohanes saudara dan sekutumu.”
Selain itu tersebut, dalam kitab ini Yohanes memperkenalkan diri sebagai penulis (1:1; 4; 9 dan 22:8). Ia juga berbicara sebagai seeorang dengan otoritas yang tak dapat diragukan, yang dikenal baik oleh semua jemaat di Provinsi Asia (Wilayah barat Turki).
2.1 Dari satu perbandingan dengan tulisan Yohanes lainnya.
Ini merupakan argumen yang terkuat yang mendukung kepenulisannya. Secara khusus ada kesamaan kuat antara tulisan ini dengan Injil yang keempat. Keduanya memiliki ide-ide yang sama, motif-motif teologi sama, istilah-istilah yang sama. Misalnya, hanya dalam Injil keempat dan dalam kitab Wahyu istilah logoj digunakan untuk Kristus. Selanjutnya, penggunaan simbol tujuh yang diulang-ulang dalam kitab ini terdapat dalam injil Yohanes sebagai bagian dari argumennya (tujuh tanda, tujuh pernyataan “AKULAH”, dsb.).
Sebagai kesimpulan, meski terdapat kesulitan, namun begitu tidak dapat dipungkiri bahwa pandangan tradisional telah menunjukkan adanya bukti eksternal yang kuat dan bukti internal yang turut menundukung, sehingga merupakan alternatif yang labih baik dari pada alternatif yang lain. maka penulis setuju dan mendukung bahwa rasul Yohanes adalah penulis kitab Wahyu. Adolph Schlatter, “yang mendukung kepenulisan apostolik dalam tulisan-tulisan Yohanes, menunjukkan bahwa tidak ada rasul lain yang memberi ajaran yang sebegitu lengkap tentang iman dalam Injil, kasih dalam surat-sura-surat, dan harapan dalam Wahyu.”

C. Penanggalan
Ada dua alternatif mengenai waktu penulisan yaitu yang medukung penanggalan sekitar tahun 60-an ( pemerintahan Nero 64-68) dan penanggalan sekitar tahun 90-an, bahwa kitab Wahyu ditulis pada masa pemerintahan kaisar Domitianus di Roma (thn.81-96). Adapun alasan-alasan itu adalah sebagai berikut:
1. Alasan bagi yang mendukung penanggalan sekitar 60-an.
- Kota besar dalam Wahyu 11:8 ditafsir bahwa kota besar itu adalah Yerusalem (literal) bukan kota si antikristus (lambang). Berarti Yerusalem masih ada pada waktu itu.
- Kota Smirna dalam Wahyu 2:8-11 adalah pada tahun 70-an sudah ada.
- Anggapan bahwa Yohanes di buang di pulau Patmos (Why.1:9) pada masa pemerintahan Domitianus oleh karena penganiyaan terhadap orang Kristen diragukan. Tetapi pada masa pemerintahan Nero itulah terjadi penganiayaan yang sangat kejam kepada orang Kristen. Sehingga adalah sangat mungkin kitab wahyu ditulis antara 64-65
- Pengukuran bait suci pada wahyu 11 mengimplikasikan bahwa bait Allah masih berdiri.
- Pada masa Paulus, sudah ada bukti bahwa jemaat di Asia kecil akan menghadapi rasul palsu, yang dinyatakan pidato perpisahannya (Kis. 20). Paulus tidak meninggal sebelum tahun 64, maka pujian kepada jemaat di Efesus yang telah menolak rasul-rasul palsu dalam Why.2:2.band. Ef. 5:6-7;2Tim. 1:5. Sehingga adalah mungkin kitab Wahyu ditulis sebelum tahun 70-an.
- Ucapan mengenai Yohanes oleh teolog Irenaeus kurang cukup untuk menjadi dasar penanggalan kitab wahyu pada tahun 90-an
- Ucapan teolog Eusibius diragukan karena mengutif ucapan Irenaeus.
- Ada saksi-saksi lain seperti Epifanius, Kanon muratori abad ke- 8, pendahuluan yang terdapat pada terjemahan-terjemahan Siria pada abad ke 6 dan 7 mengatakan Yohanes dibung ke pulau Patmos pada masa pemerintahan Kaisar Nero
- Pada abad ke-10 uskup Theofikalus mengatakan kitab Wahyu ditulis pada masa Kaisar Nero.
2. Alasan bagi yang mendukung penanggalan sekitar 90-95 M
- Penulis tampaknya diasingkan di pulau Patmos oleh karena iman Kristenya (Why. 1: 9).
- Irenius mengatakan bahwa Wahyu ditulis pada masa kerajaan Domitianus
- Sudah ada pengalaman yang matang dari ketujuh jemaat itu. Jika hal itu terjadi pada masa kerajaan Nero, belum ada waktu untuk memungkinkan terjadinya kemerosotan jemaat Efesus, Smirna, Pergamus,Tiatira, Sardis, Filadelfia dan Laodikia yang diceritakan dalam pasal 2-3.
- Kota atau jemaat yang di Laodikia menganggap dirinya kaya (Why.3:17), tetapi pada masa kerajaan Nero kota itu terkena gempa bumi (thn.60/61), sehingga pada saat itu mereka tidak lagi menganggap dirinya kaya.
- Tafsiran mengenai pengukuran Bait Allah dan angka pada Wahyu 11 secara harafiah dan dijadikan alasan untuk menentukan penanggalan kitab Wahyu sekitar tahun 70-an akan menimbulkan sejumlah masalah. (1) Angka juga muncul pada konteks yang tidak mungkin ditafsirkan secara harafiah (Why.12:6;13;5). (2) Kaisar Nero menyebabkan kota Roma terbakar pada bulan juli pada tahun 64 dan tidak menunggu sampai akahir musim gugur tahun itu untuk mengkambinghitamkan orang Kristen.(3) pemberontakan orang Yahudi melawan Roma pecah pada musim semi 66 dan berlanjut sampai hancurnya Yerusalem pada tahun 70.(4) Kota suci diinjak-injak oleh orang asing hanya bisa dimulai saat Roma mengusai Yerusalem dan meletakkan 42 bulan setelah September 70 adalah sia-sia, karena tidak ada bukti historis yang menandai kesudahannya.
- Angka 666 yang diterapkan pada Nero oleh para teolog pada abad ke-18 adalah tidak tidak valid kerena harus menambahkan hurup N dan ada lebih dari satu nama yang berjumlah 666 (Evanthas, Lateinos, dan Teitan). Pasal 13 adalah lebih baik ditafsirkan dengan simbolik. Demikian pula ketika menafsir pasal 17 berkaitan dengan ketujuh raja
- Adanya penganiayaan (Why.1:9;2:10, 13;3:10) cocok dengan zaman Dominitianus. Setelah musibah kebakaran kota Roma, Nero mengkambinghitamkan orang Kristen di kota Roma, dan mereka dianiaya secara kejam. Penganiayaan tersebut bukanlah yang diceritakan dalam kitab wahyu karena penganiayaan tersebut hanya terjadi di kota Roma, sedangkan yang disebutkan dalam kitab wahyu juga terjadi di Asia kecil. Pada zaman kerajaan kaisar Domitianus penyembahan kepada kaisar sudah menjadi kewajiban yang membawa hukuman maut. Orang Kristen yang tidak siap menyembah kepada kaisar Domitianus dianiaya di setiap tempat.
Berdasarkan penilaian yang adil bagi data di atas, maka tidaklah mudah untuk memastikan kapan kitab Wahyu ditulis. Walaupn demikian mayoritas pakar cenderung lebih suka memilih penangggalan Domitianus. Akan tetapi juga adalah mungkin untuk meletakkannya setelah Nero bunuh diri. Akan tetapi jika penulis harus memilih maka penulis memilih untuk mendukung penanggalan ke-2 bahwa Kitab Wahyu sekitar 90-95 M. dengan demikian berdasarkan penanggalan sekitar 90-95 M inilah penulis menafsir Wahyu 11:1-2.



D. CATATAN TAMBAHAN
a. Latar Belakang Jemaat
Yohanes menulis tujuh surat kepada jemaat di Provinsi Asia. Setiap surat menyatakan latar dan merefleksikan waktu penyusunan, dimana Kitab Wahyu menujukkan adanya berbagai macam musuh yaitu: pengikut Nikolaus, Pengikut Bileam dan Pengikut izebel. Dari empat surat terakhir menujukakn adanya atmosfir bahwa orang Kristus harus menghadapi imoralitas liar dan keduniawian kafir yang berusaha untuk berkuasa, bukan Yudaisme belaka.
b. Penganiayaan Dibawah Domitianus
Di sepanjang kitab Wahyu, Yohanes menyatakan akan kondisi umat Allah yang sedang mengalami penganiaan termasuk Yohanes sendiri.(1:9; 2:10,13;6:9-10;16:6;17:6;18:24;19:2;20:4 dan 3:10). Nero memang melapiaskan amarahnya terhadap orang Kristen dengan membunuhnya. Akan tetapi Domitianus juga dikenal sebagai penaniaya umat Allah dan Eusebius menyatakan bahwa domitianus adalah penerus usaha Nero dalam memusuhi Allah dan umat-Nya. Pada saat resim Romawi, setiap kota besar dan kecil diwajibkan menjalankan agama Negara yang dipinpin oleh para pejabat. Mereka juga berhak untuk membunuh atau membuang setiap orang yang melawan. Kondisi ini dibuktikan dengan didirikannya kuil Sebastoi (Keluarga Vespasianus, Titus, dan Domitianus) masa pemerintahan Domitianus pada tahun 89-90 di Efesus . Pada saat itulah penyembahan kepada kaisar adalah hal yang wajib maka Domitianus digelari dengan Dominus et dues (tuhan dan allah) atau Dominus Et Deus noster (Our Lord and God) berkaitan dengan penyembahan kepada kaisar Domitianus.

c. Perlawanan Orang Yahudi
Orang Yahudi adalah satu golongan terawal yang mendakwa Kekristenan dihadapan pemerintah Romawi, sehingga orang Yahudi menjadi ancaman nayata bagi jemaat. Pada konsili Jamnia tahun 90 orang Yahudi bersidang untuk mengakui jangkauan kanon PL, pada waktu bersamaan mereka mengutuk orang Kristen dalam doa :Delapan Belas Ucapan Syukur” sehingga mereka bertindak secara kejam kepada orang Kristen.

E. METODE PENAFSIRAN
Ada empat aliran interpretasi yang berkembang dan digunakan dalam menafsirkan kitab Wahyu yaitu aliran Preteris, Historis, Futuris, dan Idealis.
1. Pendekatan Preteris percaya bahwa “Wahyu hanyalah satu gambaran keadaan kekaisaran abad pertama.” Meski, seperti yang telah dijelaskan, kita tidak bisa memisahkan interpretasi kitab ini dari latar belakangnya (dengan demikian ada kebenaran dalam pendekataan ini), namun pandangan seperti ini tidak bisa dengan memadai menjelaskan semua data dalam kitab Wahyu, karena penulisnya menyatakan dengan gamblang bahwa kitab ini adalah tulisan yang menjelaskan masa depan (bdk. 4:1).
2. Pendekatan Historis “melihat kitab Wahyu sebagai satu presentasi simbolis keseluruhan sejarah gereja sejak awal abad pertama hingga akhir zaman.” Namun ada beberapa persoalan dengan pandangan ini. “Pertama, identifikasi yang pasti atas kejadian-kejadian sejarah dengan simbol-simbolnya tidak pernah bisa lengkap dibuat, bahkan setelah kejadian-kejadian tersebut terjadi. Kedua, para penafsir aliran historikal tidak pernah bisa dengan memuaskan menjelaskan mengapa satu nubuatan umum harus dibuat menguntungkan kekaisaran Romawi bagian barat. Ketiga, kalau memang pendekatan historis ini benar, maka prediskinya akan cukup mudah agar para pembacanya yang mula-mula bisa memahami apa maksudnya (bdk. 22:10).”
3. Pendekatan Futuris. Pendekatan ini adalah yang paling memuaskan karena: Pertama, kemungkinan bahwa 1:19 dimaksudkan untuk menjadi garis besar kitab ini; Kedua, istilah kedatangan Kristus yang kedua sebenarnya mendukung hal ini, karena “saat kejadian-kejadian ini mengarah pada suksesi yang dekat, orang akan mengingat apa yang terjadi sebelumnya dan berkata bahwa banyak dari kejadian ini masih harus terjadi di masa depan karena penggenapannya belum terjadi dan karena simbol-simbolnya merupakan pergantian kejadian-kejadian yang terjadi dengan cepat dan bukan merupakan satu proses yang lama”; dan Ketiga, “semakin seseorang menggunakan interpretasi literal, maka semakin ia akan menjadi seorang futuris.”
4. Pendekatan Idealis beranggapan bahwa, “Wahyu mewakili konflik abadi antara kebaikan dan kejahatan yang berlangsung di sepanjang masa, meski hal itu memiliki aplikasi tertentu bagi zaman gereja.” Namun sama seperti pandangan aliran preteris, pendekatan ini mengabaikan elemen prediktif dan historis dalam kitab ini. Singkatnya, “pandangan idealis memang memiliki banyak kebenaran. Kesalahannya tidak terdapat dalam apa yang ditegaskannya melainkan kebanyakan dalam apa yang dibantahnya.”
Pendekatan yang digunakan dalam menafsirkan Wahyu 11:1-2 pada dasarnya adalah pendekatan futuris komparasi. Pendekatan ini juga dapat digunakan untuk menafsirkan kitab Wahyu secara menyeluruh, meski pendekatan preteris dan idealis tidak bisa sepenuhnya dikesampingkan karena nampaknya ini juga merupakan bagian dari tujuan penulisnya.






















II. ANALISIS TEKS, TERJEMAHAN DAN CATATAN TAMBAHAN

A. Perbandingan Terjemahan WAHYU 11:1-2

Teks dalam Bahasa Yunani Terjemahan LAI TB Terjemahan Harfiah (Penulis)
Wahyu 11:1 Kai. evdo,qh moi ka,lamoj o[moioj r`a,bdw| ( le,gwn\ e;geire kai. me,trhson to.n nao.n tou/ qeou/ kai. to. qusiasth,rion kai. tou.j proskunou/ntaj evn auvtw/|Å

Wahyu 11:2 kai. th.n auvlh.n th.n e;xwqen tou/ naou/ e;kbale e;xwqen kai. mh. auvth.n metrh,sh|j( o[ti evdo,qh toi/j e;qnesin( kai. th.n po,lin th.n a`gi,an path,sousin mh/naj tessera,konta Îkai.Ð du,Oå



11:1 Kemudian diberikanlah kepadaku sebatang buluh, seperti tongkat pengukur rupanya, dengan kata-kata yang berikut: "Bangunlah dan ukurlah Bait Suci Allah dan mezbah dan mereka yang beribadah di dalamnya.

11:2 Tetapi kecualikan pelataran Bait Suci yang di sebelah luar, janganlah engkau mengukurnya, karena ia telah diberikan kepada bangsa-bangsa lain dan mereka akan menginjak-injak Kota Suci empat puluh dua bulan lamanya."

11:1 Dan diberikanlah kepadaku sebatang buluh seperti tongkat, berkata: bangunlah engkau dan ukurlah bait suci Allah itu dan mezbah dan mereka yang beribadah di dalamnya.

11:2 Tetapi halaman sebelah luar dari Bait suci itu lemparkalah keluar dan jangan engkau mengukurnya, karena ia telah diberikan kepada bangsa-bangsa lain dan mereka akan menginjak-injak Kota Suci empat puluh dua bulan lamanya.







B. TERJEMAHAN HARFIAH (Analisis Gramatika Kata Kerja Wahyu 11:1-2)
Ayat 1
Dan diberikanlah kepadaku sebatang buluh seperti tongkat, berkata : bangunlah engkau dan ukurlah bait suci Allah itu dan altar/mezbah dan mereka yang beribadah di dalamnya.
Ayat 2
Tetapi halaman sebelah luar dari Bait suci itu lemparkalah keluar dan jangan engkau mengukurnya , karena ia telah diberikan kepada bangsa-bangsa lain dan mereka akan menginjak-injak Kota Suci empat puluh dua bulan lamanya.

C. CATATAN TAMBAHAN
Metzger dalam A Textual Commentary On the Greek New Testament, Ed. Ke -2. hlm 671: memang ada kontruksi yang tidak biasa dengan mengatakan “The unusual construction of evdo,qh moi … le,gwn, calling for adjustment, was relieved in some witnesses ( 2 046 1854 2329 2351 al), followed by the Textus Receptus, by the insertion of kai. ei`sth,kei o` a;ggeloj before le,gwn.” Selanjutnya menurut David. E. Aune menyatakan terdapat problem Sintaksis sehingga sisipan “dan malaikat berdiri” adalah mempermudah dan memperjelas . Maka kontruksi kalimat menjadi “ dan malaikat berdiri berkata”. Sehingga dari kontruksi yang ditambahkan menjadikan lebih jelas bahwa yang berkata kepada Yohanes untuk mengukur itu adalah malaikat di dalam Wahyu 10. Kemudian kata kai di ayat dua digunakan sebagai adversative particle sehingga diterjemahkan yet, but : namun, tetapi.
III. KONTEKS, ULASAN BAIT SUCI DAN STRUKTUR WAHYU 11:1-2

A. KONTEKS
Para penafsir menempatkan bagian Wahyu 11:1-14 sebagai bagian yang paling sulit ditafsirkan. Akan tetapi hampir semua buku tafsiran (Osborne, Ben Witherington III, Mounce, Aune, De Heer dll), yang penulis baca setuju untuk menempatkan bagian ini sebagai interlud (selingan) kedua yang masih berhubungan dengan pasal sebelumnya yaitu pasal 10 yang berhubungan dengan tujuh sangkala (Why. 8:5-11:19). Bagian interlud yang pertama adalah pada pasal 7:1-17 (orang-orang kudus) yang berhungan dengan meterai. Hanya R.H. Charles yang menempatkan teks ini sebagai dua Fragmen yang berbeda dan tidak berhubungan dengan konteks sebelum dan susudahnya, sehingga menunjukkan bagian ini ditulis oleh penulis yang berbeda. Akan tetapi Kistemaker yang mengutip pandangan Wellhausen mengungkapkan bahwa perihal di atas hanyalah dugaan belaka. Faktanya, bagian yang satu bergantung bagian yang lainnya, sehingga mendukung bagian teks tersebut. Bagian Wahyu 11 merupakan bagian kedua yang melanjutkan bagian pertama tentang gulungan kitab yang terasa manis di mulut, tetapi terasa pahit dipercernaan (Why. 10:1-11) . Kemudian pada pasal 11 ada dua saksi yang bertugas menyampaikan berita tetapi mengalami perlawanan, perang dan kematian. Namun kematian mereka bukan berarti kekalahan, sebab mereka dibangkitkan kembali dan naik ke Surga. Yohanes sebelum mengkisahkan tentang kedua saksi tesebut ia lebih dulu mengkisahkan akan dua tugasnya untuk mengukur Bait suci Allah dan tidak mengukur bagian luar dengan alasan tertentu (Why. 11;1-2).
Dari berbagai informasi diatas jelas tidaklah mudah untuk memastikan dengan tepat mengenai konteks dan tafsiran. Namun juga sangatlah naif jika berpatokan pada klaim-klaim tertentu, yang tentunya masih perlu dianalasisa lebih dulu. Perihal yang paling penting berkaitan dengan konteks adalah tidaklah mungkin teks tersebut dipisahkan dari konteks teks sebelum dan sesudahnya. Kemudian tentunya Tuhan melalui Yohanes juga memperhatikan keadaan pada masa itu dan penerima tentu juga dapat mengerti atau mendapatkan manfaat dari apa yang dimaksudkan Yohanes.

B. ULASAN MENGENAI BAIT SUCI DALAM PERKEMBANGANNYA
1. Latar belakang Sejarah Bait Suci
Bait atau kuil yang paling tua yang dibangun oleh manusia adalah tempat dimana manusia menyembah atau beribadah kepada ilahnya. Menara Babel adalah bangunan pertama disebut Alkitab, yang mencakup adanya bait (Kej.11:4). Negeri Mesopotamia yang ditinggalkan Abraham terdapat banyak kuil/bait di tiap tempat yang dikeramatkan bagi dewa pelindungnya. Namun bapa-bapa leluhur Israel yang masih setengah mengembara tidak membangun bait/kuil khusus bagi Allah mereka. Allahlah yang menentukan segala sesuatu yang Ia berkenan, baik berkaitan dangan cara menyatakan diri-Nya dan tempat yang Allah berkenan. Allah kadang memberi tanda melalui penyembah-Nya baik itu berupa tugu atau mezbah (Kej. 22:9; 28:22).
Setelah Israel berkembang menjadi suatu bangsa baru dirasa penting bagi Allah untuk adanya tempat sebagai pusat ibadah, dan merupakan keharusan sebagai tempat untuk berkumpul umat-Nya yang menjadi lambang kesatuan mereka dalam beribadah kepada Allah. Pada mulanya dimulai dengan Kemah Suci ketika mereka di padang Gurun ( Kel. 25-28) dan juga tempat-tempat ibadah yang diakui selama zaman hakim-hakim (Yos.8:30; 24:1; 1 sam.1:3). Alphanya tempat ibadah sangat menggelisahkan hati yang di wakili oleh raja Daud (2 sam. 7:2). Namun dia tidak diperkenan untuk membangunnya dengan alasan tangannya ternoda oleh darah musuh-musuhnya. Barulah pada pemerintahan Raja Salomo pembangunan itu terwujud.

2. Bait Suci Bangunan Salomo (Skema Bait Suci Salamo terlampir).
Bait Suci yang dulu ada di tempat Bait yang sekarang yang disebut dengan “Haram esy-Syerif” di selah timur “kota tua Yerusalem” tidak diragukan. Tetapi berkaitan kepastian ( setepat-tepatnya) letak Bait Suci Salomo secara historis masih kurang pasti. Bagian yang paling tinggi sekarang ini dibagun Mazjid el-haram. Melalui usaha arkeologi yang dibiayai Palestine Exploration Fund bangunan Bait Suci Salamo tidak ada yang tinggal di atas tanah dan tidak didapati bekasnya. Ini kumungkinan terjadi karena perataan tanah di bukit itu pada saat pembangunan Bait Suci Herodes. Dasar atau kerangka gambar dasar Bait Suci salamo mengacu pad 1Raj. 6-7 dan 2Taw 3-4.
Kumunginan bahwa Bait Suci tersebut dekat dengan isatana raja ( 2 Raj. 16:18). Raja-raja Israel tidak dibatasi untuk masuk ke Bait Suci dan karena raja merupakan wakil YHWH sehingga seyogianya tinggal dekat rumah Allah. Pada saat itu Bait Suci difungsikan sebagai rumah ibadah (2 Raj 22:4) dan pembendaharaan dari harta jarahan sehingga dapat juga melambangkan keperkasaan dari kerajaan tersebut (2Raj. 12:4-15; 1Raj 14:26; 2Raj. 18:15; 1Raj 15:18; 2Raj 16:8). Pada akhirnya Bait Suci Salomo dirampas oleh Nebukadnezar (2 Raj. 25:9, 13-17). Akan tetapi pada saat itu orang Israel tetap datang ke tersebut untuk mempersembahkan korban (Yer. 41:5).

3. Bait Suci Yehezkiel
Di pembungan orang Israel dihibur dalam dukacita mereka (Mzm. 137) oleh penglihatan Bait Suci baru, yang dinyatakan melalui nabi Yehezkiel (Yeh. 40-41, Kr 571 sM). Rincian Bait Suci ini lebih banyak diberikan dari pada Bait Suci Salomo, walaupun bait Suci ini belum didirikan. Dalam hal Bait Suci ini yang sangat berbeda bukanlah gedungnya tetapi ukuran-ukurannya. Bangunan ini sangat kokoh dan dilengkapi gerbang yang kuat untuk mencegah masuknya non-Israel.

4. Bait Suci kedua
Usia Bait Suci kedua ini hampir 500 tahun, lebih lama dari Bait Suci pertama dan Bait Suci zaman Herodes. Kira-kira orang Israel kembali dari pembuangan ke tanah Israel tahun 537 sM dan membangun Bait Suci (Ezr.1;3:2-3,8-10). Pada masa Bait Suci ini tabut perjanjian sudah tidak ada karena hilang sehingga diganti ( 10 kandil zaman Salomo, pegangan lilin yang bercabang tujuh, meja roti sajian dan mezbah ukupan). Pada akhirnya apa yang ada diatas dijarah oleh Anthiokhus IV Efipanes, raja siria (175-163 sM). Yang mengakibat pembinasaan keji dan penempatan patung kafir pada 15 Desember 167 sM (1 Makabe 1:53). Golongan Makabe yang akhirnya menang menyucikan Bait Suci dan mengganti peralatan itu apada akhir thn 164 sM. Mereka mengubah daerah yang tertutup itu menjadi benteng yang begitu kuat, sehingga dapat bertahan terhadap pengepungan Pompius selama 3 bulan (thn 63 sM).

5. Bait Suci Bangunan Horedes
Pembangunan Bait Suci zaman Herodes yang dimulai pada wawl thn 19sM, lebih merupakan suatu upaya untuk memperdamaikan orang Yahudi dengan raja Idumea, dari pada untuk memuliakan Allah. Pembagunan Bait Suci tersebut terus berjalan sampai pada thn 64 M. Bangunan itu sangat kuat dan megah dan bangunan itu dari batu putih dan emas (Mrk. 13:1, Mat. 4:5), dan bagian-bagian tembok tersebut masih ada samapai sekarang.
Di halaman luar Bait Suci dikelilingi oleh tiang-tiang, yang berdiri dipelataran bangunan dalam. Serambi Salomo melintang di sebelah timur (Yoh. 10:23;Kis. 3:11;5:12). Di antara tiang-tiang inilah dilaksanakan sekolah ahli Taurat dan perdebatan-perdebatan (Mrk.11:27; Luk. 2:46;19:47). Dan disitu juga berjejer meja-meja penukar uang dan tempat-tempat pedagang (Luk. 19:45-46;Yoh. 2:14-16).
Kemudian terdapat bagian tempat bagi pengunjung non-Yahudi dan juga terdapat peringatan-peringtan keras bagi mereka yang melanggar masuk ke dalam, dimana tidak ada pertanggujawaban mengenai kematian non-Yahudi. Selanjutnya ada bagian tempat bagi para perempuan dan sehelai tirai penyekat antara tempat kudus dan tempat maha kudus (Mat. 27:51; Mrk. 15:38,bdg. 2Taw 3:14). Pada akhirnya Bait Suci ini dihancurkan oleh tentara Roma pada tahun 70 M. peralatan-peralatan dibawa ke Roma sebagai tanda kemenangan.



6. Bait Suci dalam Perjanjian Baru
Dua kata bahasa Yunani yang dipakai untuk Bait Suci yaitu Hieron dan Naos. Hieron menunjuk kepada kumpulan gedung-gedung yang seluruhnya membentuk Bait suci yang di Yerusalem. Naos khusus menunjuk ke tempat kudus yang ada di dalamnya. Kemudian dalam perkembangannya Naos dalam PB oleh para penulis merujuk pada penggambaran Gereja sebagai Bait Suci. Namun dalam Injil kata Naos juga dipakai dalam pengertian Hieron (Mat. 27:5;Yoh.2:20. Pemakain seperti ini juga ada daam Herodotus (2:170) dan Yosepus (BJ 5:207-211). Berkaitan dengan Bait Suci yang dipakai secara kiasan harus dibandingkan dengan pemakain “rumah, bangunan (oikodome), kemah (skene), tempat tinggal (katoiketerion). Dan secara harfiah Bait Suci dalam PB bdg. “rumah”(oikos) dan “tempat” (topos). Uraian singkat tentang Bait Suci dalam PB yaitu sebagai berikut:
a. Bait Suci dalam Kitab-kitab Injil
Sikap Tuhan Yesus terhadap Bait suci yang di Yerusalem mengandung dua sisi yang bertentangan. Sisi yang pertama sangat menghormati dan sisi kedua Ia menganggapnya tidak begitu penting (Mat. 12:4;Yoh.2:16; Mat. 23:17,21; Yoh.2: 17; Luk. 19:41) bdg. (Mat.12:6; Mrk. 11:12-26;13:1;14:57;15:29). Sikap Tuhan Yesus tentunya ada alasannya namun perihal ini membawa dampak permusuhan dengan pepimpin agama, dan Yudaisme yang tidak mau bertobat maka harus dihukum (Mrk.12:1-12). Bait Suci Yerusalem akan runtuh dan Tuhan Yesus akan membangun kembali Bait Suci (Mrk. 14:58;15:29). Kematian Tuhan Yesus mengakibatkan Bait Suci Yerusalem telah diganti, dan kebangkitan-Nya menempatkan yang lain sebagai gantinya. Yaitu gereja akhir zaman, milik Tuhan Yesus, mesias itu (Mat.18:20; Yoh.14:23).
b. Bait Suci dalam Kisah Para Rasuli
Di dalam Kisah Para rasul, para rasul masih beribadah ke Bait Suci di Yerusalem (Kis. 2:46;3:1;5;12,20.bdg. Luk.24:53). Namun melalui sikap Stefanus, kesadaran akan sikap terhadap bait Suci di Yerusalam mulai berubah (Kis 6:11);Kis.7). dasar sikap ini adalah Kis. 15:13-18. Dalam bagian ini sudah nampak bayangan dari ajaran tentang gereja sebagai Bait Suci Allah yang baru yang begitu jelas dalam surat-surat kiriman.
c. Bait Suci dalam surat-surat kiriman
Ajaran tentang gereja sebagai realisasi Bait Suci Mesianik yang terkandung dalam eskatologi PL dan eskatologi antar perjanjian sangat menonjol dalam tulisan-tulisan Paulus (1Kor.3:16-17;6:19;2Kor. 6:16-7:1;Ef.2:19-22.bdg.Im 26:12;Yeh.37:27) yang sudah bisa diterapkan dalam eskatologi Yahudi kepada Bait Suci zaman Mesias (Yobel 1:17). Dampaknya orang percaya (Yahudi dan non Yahudi) dituntut hidup kudus (2Kor.7:1;1Kor.6:18) yang dinyatakan dalam kesatuan komunitas (1Kor. 3:5-17 bdg. Yes.57:19; dan 9:7).
Israel dan bangsa-bangsa di persatukan untuk beribadah (Yes 2:2; Mi. 4:1;Henokh 90:29). Kalimat yang berkata bagunan itu “tubuh’ (auksein) menjadi Bait Allah merupakan penggabaran yang baru namun “adalah dua bait” dan “tubuh” adalah dua istilah ide gereja yang hampir searti (Ef. 2:19-22). Jadi dapat dikesimpulankan bahwa Gereja adalah tempat kudus Allah sehingga orang percaya harus hidup kudus sebagai korban dan beriman.
d. Bait Suci dalam Ibrani dan Wahyu
Tempat kudus yang di Surga adalah contoh (typos), artinya yang asli (Kel. 25:8), dan dipakai oleh orang Yahudi adalah suatu gambaran dan bayangan (ibr. 8:5; 9:24; 6:9-20). Tuhan Yesus adalah iman besarnya, berarti walaupun orang percaya masih di bumi ini, sudah turut dalam dalam ibadah itu (Ibr. 10:19;12:23). Bait Suci Sorgawi adalah gereja yang sudah menang (Ibr.9:23; 12:23 bdg.Bil.7:1). Dalam Kitab Wahyu, Bait Suci Sorgawi adalah bagian dari pengrohanian yang dilakukan Yohanes. Bait Suci ada dua yaitu yang ada di Sorga dan yang ada di bumi (Why. 14:1;21:10; 3:12;21;2 “Yerusalem baru’). Bait Suci yang di bumi adalah Gereja yang diukur dan dilindungi Allah. (Why. 11:1).
Pengrohanian Bait Suci menunjuk bahwa Bait Suci bukanlah bangunan yang indah (fisik), tetapi merupakan kumpulan orang-orang yang telah ditebus (Why. 14:1;13:16;3;12;12;6;11:19; 14:15;15;5-16:1 bdg. Ef. 2:21 bdg. Yes.66:6;Mi.1:2;Hab.2:20).
Kemudian di Yerusalem baru tidak ada Bait Suci lagi karena seluruh Yerusalem baru adalah Bait Suci dan itu adalah Allah dan Anak domba yaitu Anak-Nya. Jadi penyataan secara progresif tentang Bait Suci menunjuk kepada tempat berdiam Allah yang tak lain adalah Allah sendiri. Sehingga segala pemisah antara menusia dan Allah disingkirkan, sampai tidak ada satupun yang dapat menyembunyikan Allah dari umat-Nya, dan umat-Nya akan melihat wajah-Nya (Why. 21:22, 16;11:19;21:3;22:3 bdg. I Raj. 6:20; Yes 25:6).

C. STRUKTUR
Perintah untuk mengukur Bait suci Allah (1-2)
1. Yohanes diberi alat untuk mengukur (1a)
2. Perintah Ganda: Apa yang harus diukur dan yang tidak harus diukur (1b-2)
2.1 . Apa yang harus diukur (1b)
2.1.1 Bait Allah
2.1.2 Mezbah
2.1.3 Mereka yang beribadah didalamnya
2.2. Apa yang tidak harus diukur (2)
2.2.1. Area : Halaman sebelah luar (2a)
2.2.2. Lokasi : Sebelah luar bait Allah(2a)
2.2.3. Alasan (2b) :
2.2.3.1. Diberikan kepada bangsa-bangsa lain
2.2.3.2. Mereka akan menginjak-injak kota suci selama 42 bulan.

























IV. TAFSIRAN WAHYU 11:1-2

Perintah ganda kepada Yonahes (1-2)

Ayat 1
Dan diberikanlah kepadaku sebatang buluh seperti tongkat, berkata: bangunlah engkau dan ukurlah bait suci Allah itu dan mezbah dan mereka yang beribadah di dalamnya.
Perintah Untuk Mengukur Bait Suci
Dan diberikanalah kepadaku merupakan terjemahan dari kata Yunani:Kai. moi ( kai edothe moi). Kata evdo,qh merupakan kata kerja aoris indikatif pasif orang ke-3 tunggal dari kata dasar didwmi yang diterjemahkan: “was given”: diberikanlah. Selanjutnya modus indikatif diatas secara gramatikal mengekspresikan sebuah kondisi realita yang actual , perihal tersebut dikarenakan kata kerja indikatatif tersebut tidak diikuti dengan  (an) . Kemudian kata moi merupakan pronoun personal dative singular dari evgw, yang diterjemankan “kepadaku” maka menunujuk kepada Yohanes yang menerima sebatang buluh (kalamos) seperti tongkat.
Berkaitan fungsi alat yang diberikan kepada Yohanes tersebut menjadi jelas ketika muncul perkataan (le,gwn : Kata kerja kini partisif aktif nominatif maskulin tunggal dari kata dasar legw : Say : berkata/mengatakan “penentu predikatif: tidak didahului kata sandang). Isi perkataan itulah yang memperjelas maksud dari pemberian tersebut yaitu berupa perintah kepada Yohanes yaitu “bangunlah dan mengukurlah Bait suci Allah, mezbah dan mereka yang beribadah di dalamnya. (e;geire kai. me,trhson to.n nao.n tou/ qeou/ kai. to. qusiasth,rion kai. tou.j proskunou/ntaj evn auvtw/|Å). Akan tetapi dalam bagian di atas belum diketahui siapakah subjek yang memberi Yohanes buluh seperti tongkat dan dilanjutkan dengan memberi perintah untuk “ bangun dan mengukur”. Namun melalui kesatuan teks dan analisis teks yang berkaitan dengan varian teks dibagian pendahuluan menolong kepada pembaca, adalah sangat mungkin subjek yang memberi buluh dan perintah kepada Yohanes tersebut adalah malaikat sorgawi di dalam Why. 10 :1-11.
Dalam PL ada juga peristiwa yang sejajar dengan peristiwa di dalam Why. 11:1. Dimana Yahweh berbicara kepada nabi-nabi-Nya berkaitan dengan pemulihan yang akan terjadi terhadap Yerusalem. Area baru Bait suci yang akan lebih luas dari yang sebelumnya melalui penglihatan seorang laki-laki dengan tongkat pengukur . Tali pengukur tersebut akan digunakan mengukur Bait suci dan pelataran (Yeh. 40-43; Za. 2:1). Kemudian dalam PB peristiwa yang sejajar terdapat pada peristiwa pengukuran Yerusalem baru. Alat yang dipakai mengukur adalah tongkat emas dan yang mengerjakan adalah malaikat (Why.21:15). Tongkat dalam PL dan PB sangat sering digunakan secara metapora menunjuk kepada suatu otoritas atau kuasa (Kej 49:ak.5:14;Bil.17,Maz 45:6;Ibr 1:8 dan Mat.27:29). Terutama dalam nubutan-nubutan dalam PL digunakan sebagai tanda akan adanya hukuman tetapi juga sebagai tanda keselamatan yang akan datang setelah hukuman. Demikian pula dalam Why.12:5 merunjuk kepada Tuhan Yesus yang memiliki otoritas dalam memerintah. Jadi dapat disimpulkan berkaitan dengan alat ( buluh seperti tongkat) yang diberikan kepada Yohanes merupakan simbol otoritas atau kuasa Allah untuk menentukan batas yang Allah kehendaki.
Kemudian perintah pertama adalah tongkat tersebut digunakan untuk mengukur Bait suci, mezbah dan mereka yang beribadah didalamnya. Kemungkinan besar latar belakang peristiwa ini adalah peristiwa yang terjadi dalam PL (Yeh. 40-42 dan Za. 2:1). Walupun memang ada yang memberikan alternatif lain yaitu Im. 16 seperti yang dijelaskan oleh Kistemaker. Berkaitan dengan peristiwa pengukuran yang terjadi dalam PL tersebut merujuk kepada tindakan Allah yang berkenan melindungi. Baldwin memberikan judul ketika mengomentari dan menjelaskan Za. 2:1-13 sebagai “Jerusalem has a divine protector”. Perihal yang sama diberlakukan oleh Osbrone terhadap Why.11:1-2 dengan menyebutnya sebagai “the divine protection of God’s people”. Jadi pengukuran melalui sebatang buluh seperti tongkat memiliki arti “perlidungan Ilahi yang Allah lakukan terhadap Bait Suci, mezbah dan orang yang beribadah di dalamnya dan membatasi bagian yang kudus dari yang najis. Yohanes bertugas untuk menjalankan amanat agung itu sehingga memberikan rasa aman dari orang-orang yang akan menginjak-injak kota suci.
Selanjutnya mengenai Bait Suci terdapat beberapa tafsiran yang berbeda, yaitu sebagai berikut:
a. Tafsiran secara harfiah menafsirkan bait suci Allah sebagai bait suci Allah Yerusalem sebelum kehancuran tahun 70 M. Kota Suci adalah Yerusalem di timur tengah dimana bangsa Israel berada sekarang. Namun kata Yerusalem tidak muncul dalam pasal ini, tetapi “Kota suci” dan dalam kitab wahyu istilah ini lebih bermana simbolis dari pada hurufiah. Dimana “kota suci” menujuk kepada Yerusalem baru dan tempat tinggal kekal orang percaya.(21:2,10;22:19). Perlu diperhatikan disepanjang kitab Wahyu selalu mengkiaskan istilah ini, sehingga perlu banyak mempertimbangkan jika mengharfiahkan.
b. Masih merupakan tafsiran harfiah yang berpendapat bahwa Bait suci Allah akan benar-berdiri sebelum atau menjelang Kristus kembali. Namun tidak ada data dalam Perjanjian baru yang bisa mendukung pemulihan Bait suci Allah di Yerusalem.
c. Tafsiran profetis dengan berita pengharapan dan keselamatan bagi komunitas Kristen Yahudi di zaman Yohanes. Namun perlu dipertibangkan karena kitab Wahyu ditulis bagi jemaat universal.
d. Menafsir berdasarkan Teologi/pengajaran Tabernakel. Dimana seluruh Alkitab PL dan PB dilihat dalam susunanTabernakel. Jadi bagian pasal 11 diletakkan dalam susunan tabernakel yaitu di ruangan maha kudus dalam bagaian peti perjanjian. Berkaitan dengan bait suci Allah, cara menafsir ini menerapkanya kepada orang percaya. Orang percaya tersebut dilihat dalam terang tabernakel Musa maka dibagi dalam tiga kategori atau tingkatan yaitu halaman (bertobat, lahir baru dan dibabtis air), ruang kudus (kehidupan rohani:bertumbuh dalm Firman Allah, menjadi terang dan hidup dalam doa), dan ruang maha kudus ( hidup dalam penyaliban sepenuh dan hidup dalam kemuliaan). Kehidupan rohani orang percaya dilihat dari dasar pemikiran trikotomi (tubuh, jiwa dan roh). Sehingga setiap orang percaya harus menjalani tiga tingkatan untuk mencapai kesempurnaan. Jelas perihal ini bertentangan dengan ajaran Alkitab karena orang yang percaya kepada Tuhan Yesus Kristus tidak dipandang dalam tingkatan (dibagi-bagi). Akan tetapi mereka semua adalah ciptaan baru yang memang harus bertumbuh.
e. Salah satu tafsiran yang berkembang di Indonesia dan khususnya pada kalangan pentakosta dan kharismatik hampir semua bertolak dari pengajaran tabernakel diatas. Namun dalam perkembangannya ada kelompok yang menafsirkan kitab wahyu secara “vision” yang diperoleh oleh satu atau lebih hamba Tuhan tertentu dalam kelompok yang sedang bersekutu. Kemudian pada akhirnya dijadikan doktrin sekolah Alkitab yang tentunya mempenagaruhi gareja yang dilayaninya. Misal :Sekolah Alkitab Tiranus Filadelfia Manado. Bait Allah yang dimaksud dalam bagian ini adalah Tabernakel yang terdiri dari:
1. Tabernakel bangunan fisik yang terdiri dari ruang suci dan maha suci (Kel. 25:8-9).
2. Tabernakel (pribadi),(1Kor. 3:16).
3. Tabernakel (jemaat), ( Ef. 2:20-22;I Kor 3:16). Bait Allah ini disoroti dari sudut pandang Gereja Awal dan Gereja Akhir yang bertolak dari (Kis 2:37:38). Sehingga membagi dalam tiga kategori yang merupakan progresifitas menuju kesempurnaan yang harus dilewati oleh orang percaya yaitu bertobat, dibaptis dan beroleh anugerah Roh kudus (bahasa Roh, nubuat, penglihatan dan mazmur). Kota suci diartikan sebagai Yerusalem di timur tengah dan gereja Tuhan yang telah dukuduskan. Pandangan ini sejalan dengan pandangan sebelumya, maka juga tidak tepat.
f. Tafsiran kiasan melihat bait Allah sebagai Gereja (jemaat yang menyembah), padangan ini dianggap lebih baik oleh Johnson dengan ungkapan “it is better to understand John as referring in chapter 11 to the whole Christian community”. Tafsiran ini adalah yang paling memungkinkan karena sesuai konteks pasal 11:1-13 yang bersifat simbolis. Perlu dimengerti bahwa simbolisme bukan merupakan penyangkalan terhadap sejarah, tetapi metode pengiasan untuk mengkomunikasikan realitas. Kata to.n nao.n tou/ qeou/:Bait Suci Allah, Kata nao.n sendiri berasal dari kata dasar nao. yang diterjemahkan dengan temple : Bait/kuil dan digunakan kurang lebih 25 kali. Dalam PB kadang digunakan dengan maksud yang sama dengan kata hieron (Hieron) yang menunjuk kepada komplek Bait Suci, namun Naos lebih sering digunakan untuk tempat kudus yang ada di dalamnya. Dan dalam nas ini menunjuk kepada ruang kudus dan maha kudus, yang sudah tidah dibatasi lagi dengan tirai, sehingga semua ruangan menjadi ruang maha kudus. Peristiwa itu terjadi saat kematian Tuhan Yesus (Mat.27:51).
Area diatas menunjuk kepada hadirat Allah, dimana Dia tinggal bersama- bersama dengan orang-orang kudus, baik itu yang sudah meninggal dan yang masih hidup yaitu yang ada di Surga dan yang ada di bumi sebagai umat tebusan-Nya (Ibr. 9:12;Why. 14:1;13:16;3;12;12;6;11:19; 14:15;15;5-16:1 bdg. Ef. 2:21;1Kor.3:9 bdg. Yes.66:6;Mi.1:2;Hab.2:20). Di dalam jemaat yang beribadah Allah bertemu umat-Nya menerima pujian dan penyembahan mereka, demikian pula umat-Nya menikmati janji-janji Allah. Yohanes dalam mengukur bagian tersebut langsung dihubungkan dengan orang yang beribadah di dalamnya. Berapa jumlah orang tersbut tidak deberikan oleh karena sangat banyak dan tak ada yang mampu menghitungnya.
Arti penting dan signifikansi pengukuran mezbah (qusiasth,rion) mezbah tersebut tentunnya adalah pebakaran ukuban yang berada di ruang kudus, bukan mezbah korban bakaran yang ada di luar bangunan. Karena Yohanes tidak diperintahkan mengukur pelataran luar (ay 2; Why.6:9;8:3,5:9:13;14:18;16:7). Mezbah korban bakaran tidak dibicarakan karena fungsinya sudah berakhir, yang disebabkan oleh kematian Tuhan Yesus. Jadi yang maksud mezbah adalah doa-doa orang telah percaya kepada Tuhan Yesus (Why.8:3,5), dan ketika diukur oleh Yohanes menandakan bahwa setiap orang yang telah percaya kepada Tuhan Yesus memiliki dan menikmati akses langsung kepada Allah, sehingga mereka ( orang yang beribadah) berada dalam perlindungan ilahi dan pemeliharaan Allah secara kekal dari serangan para perusak (Penginjak-injak kota suci).

Ayat 2
Tetapi halaman sebelah luar dari Bait suci itu lemparkalah keluar dan jangan engkau mengukurnya , karena ia telah diberikan kepada bangsa-bangsa lain dan mereka akan menginjak-injak Kota Suci empat puluh dua bulan lamanya.

Perintah kedua Yohanes adalah tidak mengukur area halaman sebelah luar (kai th.n auvlh.n th.n e;xwqen) dan lokasi itu adalah sebelah luar bait Allah (tou/ naou/ e;kbale e;xwqen). Terjemahan harfiahnya adalah “Tetapi halaman sebelah luar dari Bait suci itu lemparkalah keluar”. Menurut penulis terjemahan harfiah lebih tepat dan tegas, bukan berlebihan. Bahwa Yohanes harus mejalankan perintah ganda : Mengukur Bait Suci, Mezbah dan orang yang beribadah di dalamnya dan Yohanes diperintahkan untuk melemparkan keluar (e;kbale e;xwqen), kata e;kbale adalah kata kerja aoris imperaktif aktif orang ke-2 tunggal dari kata dasar ekballw :throw/cast out:lemparkalah. Perintah kedua adalah berlawan dengan perintah pertama, perihal ini nyata dari kata kai di ayat dua digunakan sebagai adversative particle sehingga diterjemahkan yet, but : namun, tetapi. Ini adalah cara Allah untuk membuat pembatasan antara umat Allah yang telah dikuduskan oleh karya Kristus dengan orang-orang yang najis ( Yes.29:13; Mat.13:8-9 “ tidak kudus”).
Perintah ini jelas bahwa Yohanes harus melemparkan keluar orang-orang yang tidak berada di wilayah Bait Suci yaitu yang berada di halaman dan masih terus-menerus memfungsikan mezbah korban bakaran tetapi menolak pengorbanan Tuhan Yesus Kristus dan pasti tidak mau percaya kepada Tuhan Yesus Kristus sebagai Juruselamat (Mesias). Perihal ini berlaku kepada orang Yahudi dan non-Yahudi yang tidak mau percaya kepada Tuhan Yesus. Mereka harus dilemparkan keluar dan tidak diukur yang berarti mereka tidak mendapatkan perlidungan ilahi dan pemeliharaan Allah. Kondisi ini menunjukan bahwa mereka akan menerima hukuman kekal karena ditolak oleh Allah. Kistemaker menjelaskan bahwa pengulangan kata e;xwqen dalam (ay 2) menyiratkan penegasan akan finalitas penolakan Allah kepada orang najis. Segala usaha yang mereka lakukan dalam kedok ibadah adalah sia-sia karena penuh dengan kemunafikan. Hanya mereka yang dikuduskan memiliki meterai Allah sehingga mereka diukur yang berarti dilindungi dan orang-orang najis yang menolak untuk bertobat, mereka tidak diukur berarti ditolak lalu dihukum (Why.9:4;22:14 bdg. Why. 9:20-21;22:15). Mereka yang disebut di atas inilah yang selanjutnya dilarang untuk diukur “kai. mh. auvth.n metrh,sh|j” kata metrh,sh|j adalah Kata kerja aoris subjungktif aktif orang ke-2 tunggal dari kata metrew : to measure : mengukur. Kata kerja subjungtif yang didahului dengan mh. memiliki tujuan yang berupa perintah negatif yaitu larangan. Jadi yang harus dilakukan Yohanes adalah jangan mengukur bagian halaman karena telah dilemparkan yang berarti telah ditetapkan oleh Allah untuk ditolak.
Selanjutnya yang menjadi alasan terhadap peristiwa di atas adalah : mereka “telah diberikan” (Kata kerja aoris indikatif pasif orang ke-3 tunggal dari kata dasar didwmi: to give: telah diberikan) kepada bangsa-bangsa lain dan akan mereka akan menginjak-injak (Kata kerja future indikatif aktif orang ke-3 jamak dari kata dasar patew : tread or tread under foot: akan menginjak-injak atau menginjak-injak dengan kaki) Kota Suci empat puluh dua bulan lamanya.
Mereka “tidak diukur” yang berarti “tidak dilindungi oleh Allah”. Mereka akan menjadi milik bangsa-bangsa lain yaitu mereka yang akan meninjak-injak kota suci yang adalah umat Allah yaitu orang-orang kudus yang berasal dari segala bangsa, kaum dan suku yang percaya kepada Tuhan Yesus Kristus. Jadi mereka yang tidak diukur akan bersatu dengan bangsa-bangsa lain dan akan menginjak-injak selama 42 bulan. Menginjak-injak menunjuk kepada tindakan yang menyakiti sehingga mengakibatkan adanya suatu pengniayaan kepada umat Allah yang adalah jemaat-Nya. Masa penganiayaan berlansung selama 42 bulan adalah bukan menunjuk kepada waktu yang harfiah tetapi menunjuk bahwa masa penganiayaan kepada orang percaya yang tidak kekal atau terbatas. Osborne menekankan berkaitan dengan periode itu sebagai pemeliharaan secara rohani bagi orang percaya atas datangnya aniaya besar, dengan kalimat: “the stress is on the preservation of the saints spiritually in the coming great perse¬cution”. Aune juga mempunyai pendapat yang sama dengan ungkapan “ it assures support in trough sueffring and death and protection from spiritual danger”. Penekanan yang sama juga diungpakan oleh Witherington III yaitu “This comports with the view that spiritual protection, not necessarily protection of their physical temples, is what is being promised here”. Perihal ini menujukkan bahwa sebagai umat yang mendapatkan perlindungan ilahi dari Allah yang semetara ini tinggal di bumi, masih dapat mengalami aniaya secara fisik, tetapi ronahinya tidaklah demikian karena dijamin oleh Allah . Orang percaya di bumi ini senatiasa mendapatkan tantangan dari si anti-Kristus, dan dalam koteks kitab Wahyu ditunjukan di dalam surat kepada ketuju jemaat di Asia kecil.
Jadi dapat disimpulkan bahwa Bait Suci Allah adalah umat Israel yang percaya kepada Yesus Kristus dan Gereja Perjanjian Baru (Jemaat Allah). Halaman yang dilemparkan keluar dan tidak diukur adalah menunjuk bangsa Israel yang menolak Tuhan Yesus Kristus dan bersatu dengan seluruh dunia yang melawan Allah (bukan orang percaya). Namun melalui perlidungan Ilahi itu pula umat Allah yaitu orang percaya mendapat penghiburan bahwa mereka dapat menang dari penganiayaan besar tersebut. Sehingga tidak akan sanggup memisahkan orang percaya yaitu gereja Tuhan dari kasih Allah, karena Allah adalah pembela dan dipihak orang percaya (Rm.8:31-39). Solideo Gloria.

V. KESIMPULAN
Berdasarkan hasil penyelidikan penulis maka dapat disimpulkan bahwa, bagian Wahyu 11:1-2, adalah merupakan perintah ganda yang diberikan kepada Yohanes. Perintah ganda tersebut terdiri dari perintah positif sehingga membawa dapak positif dan perintah negatif yang membawa dampak negatif pula. Untuk mendiskripsikan bagian ini, penulis menggunakan dua istilah yaitu; Divine protection (Perlidungan ilahi) dan Divine rejection (Penolakan ilahi).

A. DIVINE PROTECTION ( Perlindungan Ilahi )
Perintah positif yang diberikan yaitu Yohanes diperintahkan untuk mengukur: Bait Suci, mezbah dan orang-orang yang beribadah didalamnya. Mengapa dikatakan sebagai perintah positif ? Karena Bait suci, mezbah dan orang-orang yang beribadah mengambarkan orang percaya yang beribadah yaitu Gereja Tuhan. Lalu Pengukuran mengambarkan perlindungan Ilahi yang Allah lakukan untuk memelihara gereja-Nya dari tantangan yang muncul, dari para penganiaya yaitu anti-Kristus yang berasal dari bagian yang dilemparkan Yohanes. Sehingga sebagai konsekwensinya tidak diukur dan diberikan kepada bangsa-bangsa lain. Inilah “ divine protection” yang Allah telah tetapkan bagi orang percaya secara pribadi atau kelompok yaitu Gereja Tuhan. Dengan demikian pandangan yang bertolak dari teologi Tabernakel dan Vision. Dimana membagi 3 tingkatan bagi orang percaya adalah tidak tepat diberlakukan untuk menafsirkan bagian ini. Pandangan ini menyatakan bahwa orang yang sudah percaya kepada Tuhan Yesus Kristus tingkat pertama (pertobat dan dibaptis) mereka masih di bagian halaman karena itu tidak diukur. Sehingga masih dapat menjadi murtad bahkan menjadi anti-Kristus adalah tidak tepat. Mengapa demikian? Karena dengan jelas Alkitab menyatakan bahwa ketika kematian Tuhan Yesus Kristus tirai pembatas antara ruang kudus dan maha kudus terbeleh dua. Sehingga tidak ada lagi pembagian ruang, yang ada hanya ruang maha kudus (Mat. 27:51). Selanjutnya memang Rasul Paulus memakai 3 istilah dalam bahasa Yunani tetang keberadaan orang percaya yaitu: anthropos sarkikos (manusia daging) tetapi diterjemahkan dengan “manusia duniawi”(1Kor.3:1,3). anthropos psikhikos (manusia fisik/alami) yang terjemahkan sama dengan anthropos sarkikos yaitu “manusia duniawi” (1Kor. 2:14). Dan yang terakhir anthropos pneumatikos (manusia roh) yang terjemahkan dengan “manusia rohani” (1Kor.2:15). Perihal ini menunjuk kepada “manusia duniawi” yang diparadoksakan dengan anthropos pneumatikos yaitu “manusia rohani”. Akan tetapi Paulus memakai kata anthropos sarkikos dan anthropos psikhikos dengan maksud yang berbeda bukan sinonim. Anthropos psikhikos adalah bukan orang percaya di Konrintus. Namun Paulus melihat orang percaya di Korintus dalam terminologi kanak-kanak dan dewasa dalam terminilogi itu ialah anthropos sarkikos dan anthropos pneumatikos. Tentunya jika akan diterapkan seperti pola tabernakel terhadap tafsiran Wahyu 11: 1-2 padangan tersebut menjadi gugur dengan sendirinya (karena orang percaya tidak di bagi 3 tipe pembedaan tetapi 2).

B. DIVINE REJECTION (Penolakan Ilahi)
Perintah negatif yang diberikan kepada Yohanes adalah melemparkan bagian halaman luar dan tidak boleh mengukurnya. Peristiwa ini merupakan penggambaran akan penetapan Allah yang menolak orang yang tidak percaya kepada Tuhan Yesus Kristus, baik itu orang Yahudi dan non- Yahudi (bangsa-bangsa lain). Penolakan itu dibuktikan dengan tidak mengukurnya yang menggambarkan bahwa mereka tidak mendapatkan perlindungan ilahi. Sehingga mereka akan bersatu bersama-sama bangsa-bangsa lain untuk melawan Allah yang dinyatakan dengan menginjak-injak kota suci yaitu Gereja Tuhan yang terdiri dari kumpulan orang percaya. Orang-orang yang ditolak itu memang masih dapat melakukan aniaya kepada Gereja Tuhan. Kondisi ini adalah atas seijin Allah. Akan tetapi mereka tetap dibatasi oleh Allah oleh karena Allah akan melindungi milik kepunnyaan-Nya. Maka menjadi jelas bagian yang ditolak adalah merupakan penetapan Allah sendiri. Ini merupakan bagian dari murka Allah atas orang yang tidak mau percaya kepada Tuhan Yesus sehingga dipersiapkan untuk mendapatkan penghakiman dan pengukuman kekal. Ada anti-Kristus yang akan mendatangkan aniaya besar bagi orang percaya tetapi itu bukan orang percaya seperti anggapan penafsir kitab Wahyu dalam terang susunan Tabernakel.








VI. IMPILKIKASI BAGI ORANG PERCAYA MASA KINI

Setelah mengetahui hasil menyelidikan dan kesimpulan dalam bentuk pemaparan di atas maka muncul pertanyaan. Apa implikasinya bagi orang percaya yaitu gereja Tuhan di masa kini? Tentunya bagian Wahyu 11:1-2 yang tadinya dihindari oleh karena dianggap bagian yang sulit dari Kitab Wahyu untuk ditafsirkan adalah suatu fakta. Akan tetapi sesungguhnya bagian yang sulit ini setelah diselidiki memberi manfaat yang luar biasa bagi orang percaya, karena memberi penghiburan bagi Gereja Tuhan di dunia ini, terlebih bagi Gereja Tuhan di Indonesia. Kondisi yang minoritas menjadikan Gereja Tuhan di Indonesia sering mendapatkan tekanan bahkan penganiayaan dari si anti-Kristus. Sehingga Gereja Tuhan senantiasa hidup dalam ketegangan yang luar biasa. Terlebih baru-baru ini diterbitkan buku dari kalangan Muslim moderat yaitu “ Ilusi Negara Islam “Ekspansi Gerakan Islam Transnasional di Indonesia” yang menyatakan sekarang ini muncul gerakan besar dari Islam garis keras dan sudah menyebar keseluruh pelosok tanah air. Kemudian di sisi lain di kalangan Kristen sendiri dalam mengatasi kompliks masyarakat plurarisme dan umat Kristen berada, memunculkan teologi pluralisme yang bertentangan dengan iman Kristen sejati supaya bisa aman dan nyaman di dunia ini dan khususnya di Indonesia.
Sungguh menjadi nyata betapa beratnya mempertahankan iman yang murni di tengah bangsa dengan kondisi yang demikian. Tetapi Yohanes memberikan orang percaya perhiburan yang sejati melalui kitab Wahyu karena siapa yang membaca, mendengarkan dan melakukan apa yang di samapaikan Kitab Wahyu bukan menjadi takut, tetapi akan berbahagia.
“Berbahagialah ia yang membacakan dan mereka yang mendengarkan kata-kata nubuat ini, dan yang menuruti apa yang ada tertulis di dalamnya, sebab waktunya sudah dekat.”Why.3:3
Dengan demikian, berkaitan dengan implikasi Wahyu 11:1-2 bagi orang percaya masa kini, penulis buat dalam point-point, yaitu sebagai berikut:
1. Orang percaya harus senantiasa bersyukur kepada Allah, karena hanya melalui kasih-Nya di dalam Yesus kristus orang percaya mendapatkan jaminan perlidungan ilahi (Why.1:5-6; 11:1-2).
2. Orang percaya akan semakin sadar dan memuliakan Allah. Oleh karena melalui bagian Wahyu 11;1-2 menunjukan akan eksistensi Allah yang ada Alfa dan Omega. Allah yang ada dan sudah ada dan yang akan datang (Why.1:4,8). Allah adalah pembuat dan penguasa sejarah.
3. Orang percaya yang merupakan Bait Suci, harus hidup di dalam kekudusan dan menjaganya dengan segenap hati, karena orang percaya adalah umat yang dikuduskan dan berada dalam area hadirat Allah yang maha kudus. Seluruh sikap orang percaya harus merupakan ibadah kepada Allah (1Ptr 1:13-16).
4. Orang percaya hendaknya senantiasa sadar dan waspada, karena walaupun orang percaya berada dalam perlidungan Ilahi, tetap atau masih dapat mengalami penganiayaan dari anti-Kristus, yaitu orang-orang yang telah ditolah Allah dan tidak dilindungi. Sehingga menjadi nyata ketika mereka tidak mau percaya kepada Tuhan Yesus Kristus selama masih tinggal di dunia ini. Jikalau orang percaya harus mengalami kematian karena imannya itu bukan untuk membayar dosa, melainkan kematian dari segala dosa dan untuk masuk kedalam hidup yang kekal sehingga merupakan keuntungan (Flp. 1:21; 1Kor. 5:8). Karena orang percaya dari kematian tersebut akan mengalami kebangkitan (Flp.3:21) oleh sebab itu orang percaya jangan takut kepada mereka yang dapat membunuh tubuh, tetapi tidak dapat membunuh jiwa (psyche); tetapi takutlah kepada Allah (Mat.10:28). Ajaran mereka adalah disimpan untuk hari penghakiman dan penghukuman kekal.

5. Orang percaya hendak tidak usah takut akan aniaya tersebut, penderitaan karena Kristus adalah bagian dari kasih karunia(1Ptr.2:18-25). Anti-Kristus bukanlah tanpa batas (waktu dan kuatnya penganiayaan), karena tidak ada satu kuasa pun yang sanggup memisahkan orang percaya dari kasih Kristus dan tidak ada pencobaan yang melebihi kekutatan kita ( Rm. 8:31-39;1Kor. 10:13).
6. Orang percaya hendaklah memulikan Allah kerena hidupnya telah terjamin dengan sikap yang teguh dalam iman, tidak goyah dan giat selalu dalam perkerjaan Tuhan. Orang percaya seyogianya semakin giat melaksanakan amana Agung Tuhan Yesus Kristus di dunia ini (Mat. 28:19-20), sebesar apapun kekuatan anti-Kristus tidak akan dapat membatasi kuasa Allah. Oleh sebab itu harus yakin jika jerih payah orang percaya tidak akan sia-sia (1Kor.15:58). Rasa aman adalah kebutuhan semua orang, namun aman bukan berarti tidak ada masalah dalam kehidupan ini. Tempat yang paling aman adalah di dalam pelukan-Nya dan itu jaminan yang diberikan Allah kepada orang percaya.
7. Pengajaran tabernakel/Bait Suci Musa adalah penting. Kerena ini inti pengajaran tabernakel itu adalah korban darah yang melambangkan pengorbanan Tuhan Yesus Kristus. Namun tidaklah benar jika orang percaya atau lembaga tertentu mengaplikansikannya tanpa memperhatikan Alkitab secara konprehensip (Sejarah Keselamatan dan sejarah Penyataan Allah). bdg. Ibr.9:8.9,24;10:1;1Kor.10:11;Ibr.8:5; Luk.24:27:Yoh.5:39;Im.17:11;Ibr.9:22;1Yoh.1:7. Orang yang mengaku percaya kepada Tuhan Yesus Kristus yaitu orang Kristen hendaklah mengoreksi diri sendiri dan mampu menilai dirinya. Bahwa apakah benar hidupnya sekarang ini sudah menunjukkan konsekwensi logis orang percaya telah diukur yang seyogianya nampak dalam kehidupan sehari-hari atau sebaliknya. Orang percaya harus tidak perlu menjadi takut karena konsep tingkatan-tingkatan dalam pengajaran tabernakel ( perihal ini kurang tepat). Akan tetapi orang percaya harus bertumbuh dari “anthropos sarkikos kepada anthropos pneumatikos, dari kanak-kanak kepada kedewasaan rohani (1Kor.3:14-15). Orang percaya hendaklah semakin manjadi manusia rohani yang bertumbuh karena orang percaya bukanlah manusia duniawi. Jangan tetap menjadi kanak-kanak yang hanya memerlukan susu tetapi hendaklah menjadi dewasa dalam sagala pengetahuan dan pengenalan akan Allah.




















VII. LAMPIRAN - LAMPIRAN
1. Skema Bait suci di padang Gurun
a. Gambar Kemah suci di padang gurun

b. Skema bagian-bagian Kemah suci





2. Skema Bait Suci Salomo


3. Rekontruksi Bait Suci Salamo


















4. Bait Suci Herodes.





























5. Taberbakel dalam pembagian Kitab-Kitab.
a. Kitab-kitab PL




















b. Kitab-kitab PB























6. Tabernakel/Bait Suci tubuh orang percaya
a. Menurut STT Tabernakel



















b. Pengertian rohani Tabernakel Musa dan hubungkan dengan khotbah R. Petrus “Kis.2:37-38”
(STT Tiranus Filadelfia Manado: J.H. Waworuntu & Rolly Rorong)















DARTAR PUSTAKA



Aune, David. E., Word Biblical Commetary Vol.52B. Revelation 6-16, Thomas nelson Publishing, Nashille, 1998
Baldwin, Joyce G., Tyndale Old Testament Commentaries:Haggai, Zechariah and Malachi, USA: IVP, 1996
Brill, J. Wesley, Tafsiran 1Kotintus, Bandung : Yayasan Kalam Kudus, 2003
Borsema, T.j., Alkitab Bukan Teka-Teki, (Surabaya :Momentum, 2000
Charles, R.H., A Critical And Exegetical Commentary, The Revelation Of ST. John Vol.1, Edinburgh, 1975
De Heer, J.J., Tafsiran Alkitab “Wahyu Yohanes” Jakarta :BPK Gunung Mulia,2008
Garland David E., Baker ECNT 1 Corinthians, Grand rapids:minchingan: Baker Academic, 2003
Groen, Jakob P.D., Aku Datang Segera “Tafsiran Kitab Wahyu”, Surabaya :Momentum, 2002
Guthrie, Donald, New Testament Introduction:Hebrews to Revelation ( Chicago: Inter-Varsity, 1962)
Guthrie, Donald, Pengantar Perjanjian Baru, Vol 3., Surabaya :Momentum, 2009
Gaebelein Fank E., Expositoris Bible Comnentary TNIV Vol 12 (Hebrew -Revelation), Grand Rapids: Regency Referece Library, 1994
Hagelberg, Dave, Tafsiran Kitab Wahyu , Yogyakarta: Yayasan ANDI, 1997
Hoekema Anthony A., Alkitab dan Akhir Zaman, Surabaya :Momentum, 2009
Jones, Glenn M., Sepuluh Pokok Mengenai Kemah Suci, Bandung :Kalam Kudus

Kistemaker, Simon J., Tafsiran Kitab Wahyu, Surabaya :Momentum, 2009
Lipire, Yusuf Agustinus, Ikhtisar Tata Bahasa Yunani PB (Sintaksis), Jakarta :SETIA,2008
Margianto, Yoppi, Belajar sendiri bahasa Yunani “berdasarkan Injil Yohanes” Buku lanjutan khusus kata kerja, Yogyakarta :Yayasan Andi,2009
Metzger, Bruce M., A Textual Commentary On the Greek New Testament, Ed. Ke-2, Stuttgrat, 1994)
Mounce ,Robert H., The New International Commantary on The New Testament “The Book Of Revelation” , Grand Rapids:Eerdmans, 1998
Osborne, Grant R., Revelation, Grand Rapids : Baker Akademic, 2002
Pfeiffer, Charles F. & Horinson Everett F. (Penyunting), Tafsiran Alkitab Wycliffe Vol.2 Ayub – Maleakhi, Jakarta: Gandum Mas, 2009
Purnomo, Petrus Agung, Tuhan Kembali Ke Bait Suci-NYa, Semarang :Media Injil Kebenaran
R.Beasley-Murray, George, New Bible Commetary-Revelation, England: Inter-Varsity Press, 1994
Rawan, Obaja A., Khotbah Tuhan Yesus Tentang Akhir Zaman, Bandung : Cipta Olah Pustaka, 1999)
Rienecker, Fritz, A Linguistic Key To The Greek NT, Grand Rapids, Michingan: Zondervan Publishing House, 2000
Robinson, Thomas A., Mastering Greek Vocabulary, Massachusetts: Hedricktion Publushing
Ryken, Leland, DKK, Dictionary of Biblical Imagery, USA :IVP,1998
Scheunemann, D., Berita Kitab Wahyu, Jawa Timur : YPPII dan Yayasan Penerbit Gandum Mas, 1997
Soetopo, Gersom, Tabernakel (Pelajaran kemah Suci dan Penjabaran Tiap-tiap kitab dari PL dan PB dalam susunan Tabernakel), Lawang-Jatim : STT Tabernakel, 1994
Swan, David (Tan Swan Cwew), Melangkah Masuk Ke Ruang Maha Suci “Panggilan Roh di Akhir zaman, Bandung : Revival Publishing House, 1999
Tim Penyusun, Ensiklopedia Alkitab Masa Kini Jilid 1 A-L, Jakarta : YKBK/OMF, 1999
Tim Penyusun, Ensiklopedi Alkitab masa kini M-Z, Jakarta: YKBK/OMF, 2002
Wahid (Editor), Addurrahman., Ilusi Negara Islam:eksapansi gerakan Islam transnasional di Indonesia,The wahid Institute,2009
Wallace, Daniel B.;Kitab Wahyu:Pendahuluan, Argumen, dan Garis Besar; © The Biblical Studies Foundation (www.bible.org)
Walvoord, John F., Pedoman lengkap Nubuat Alkitab, Bandung : Kalam Kudus, 2003
Wawonruntu, J.H. & Rorong Rolly, Vision Pengungkapan Kitab Wahyu jilid II, Surabaya :Hasrat Mulia, 2006
Witherington III, Ben, TNCBC Revelation, Cambridge: Published By Press Syndicate of The University of Cambridge, 2003