Foto Wisuda Pasca Sarjana

Selasa, 11 Mei 2010

John Calvin dan Misinya

JOHN CALVIN DAN MISINYA

A. Biografi Calvin
Johannes Calvin lahir dengan nama Jean Cauvin pada tanggal 10 Juli 1509 di kota Noyon, Perancis Utara yang dikenal dengan sebutan kota uskup karena kota itu dipimpin oleh para uskup Katolik. Calvin lahir dari pasangan Gerard Cauvin dan Jeanne Lefranc. Calvin memiliki 4 saudara laki-laki dan dua saudara perempuan. Pada usia 3 tahun, ibunya meninggal sehingga ia menjadi seorang piatu. Sedangkan bapaknya meninggal bulan Mei 1531 pada saat ia berusia 20 tahun.
Calvin mengalami suatu pertobatan dalam hatinya sedemikian rupa sehingga ia kemudian menyatakan dalam bagian pengantarnya pada tafsiran kitab Mazmur:
“Allah akhirnya mengalihkan jalan hidupku ke arah yang lain melalui kuasa providensi-Nya yang tersembunyi. Apa yang mula-mula terjadi melalui pertobatan yang tak terduga itu adalah Ia membentuk pikiran saya yang keras menjadi suatu hati yang mau diajar, sebab tadinya saya sedemikian terikat oleh takhayul kepausan sehingga tampaknya tak ada suatu hal pun yang dapat menarik saya dari sedotan lumpur hisap itu”.

Calvin berniat menikah untuk menunjukkan sikap positifnya terhadap pernikahan dari pada kehidupan selibat. Ia meminta teman-temannya menolongnya mencarikan seorang perempuan yang "sederhana, taat, tidak sombong, tidak boros, sabar, dan bisa merawat kesehatannya." Pada tahun 1539 ia menikah dengan Idelette de Bure, janda seseorang yang dulunya anggota Anabaptis di Strasbourg. Idelette mempunyai seorang anak laki-laki dan perempuan dari almarhum suaminya. Namun hanya anak perempuannya yang pindah bersamanya ke Jenewa. Pada 1542, suami-istri Calvin mendapatkan seorang anak laki-laki yang dua minggu kemudian meninggal dunia. Idelette Calvin meninggal pada 1549 dengan meninggalkan satu kalimat terakhir yang dicatat oleh Calvin:
”O, kebangkitan yang kurindukan. ’O Allah Abraham dan nenek moyang kami. Sudah berabad-abad lamanya semua orang percaya menaruh pengharapannya kepada Engkau dan tidak seorang pun Engkau kecewakan. Begitupulalah saya. Saya menunggu Engkau” .

Calvin menulis bahwa istrinya telah banyak menolongnya dalam pelayanan gerejanya, tidak pernah menghalangi, tidak pernah menyusahkannya dengan urusan anak-anaknya dan berjiwa besar.
Setelah orang-orang yang dikasihinya dipanggil pulang oleh Sang Pencipta, Calvin pun mulai mencurhkan seluruh perhatian serta hidupnya secara penuh untuk pekerjaan Tuhan melalui pengajaran-pengajaran secara lisan maupun melalui tulisan-tulisannya. Menjelang akhir hayatnya, Calvin berkata kepada teman-temannya yang kuatir tentang kadar kerjanya sehari-hari, "Apa? Apakah kalian ingin aku menganggur apabila Tuhan menemukan aku saat Ia datang kembali kedua kalinya?"
Calvin meninggal di Jenewa pada tanggal 27 Mei 1564 pada usia 54 tahun. Ia dikuburkan di Cimetière des Rois dengan sebuah batu nisan yang ditandai semata-mata dengan inisialnya, "J.C", sebagai pemenuhan permintaannya agar ia dikuburkan di sebuah tempat yang tidak dikenal, tanpa saksi ataupun upacara.

B. Pendidikan Calvin
Calvin menempuh pendidikan elementernya dalam istana bangsawan Noyon bersama dengan anak-anak bangsawan itu karena keluarga Calvin memiliki hubungan yang erat dengan keluarga bangsawan Mommor di Noyon.
Keluaranya menentukan bahwa ia akan menjadi imam, tetapi waktu ia mempersiapkan diri di Paris untuk masuk fakultas teologi, terjadi perselisihan antara ayahnya dengan keuskupan Noyon sehingga rencananya batal. Walaupun demikian, tidak dapat dikatakan bahwa Calvin tidak mempersiapkan diri dengan cara lain untuk kelak menjadi seorang teolog. Sebab pada tahun 1531 ia kembali ke Paris untuk belajar kesusasteraan dan bahasa-bahasa, yaitu bahasa Latin, Yunani dan Ibrani. Pada Tahun 1523, dalam usia 14 tahun, ayah Calvin mengirimnya ke Universitas Paris untuk belajar hukum. Pada tahun 1532, ia telah menjadi Doktor Hukum di Orléans.
Pada tahun 1533 ia melarikan diri dari Paris karena dicurigai oleh pihak pemerintah sebagai penganut reformasi. Pada waktu melarikan diri dari Paris, ia telah berada di bawah pengaruh Humanisme Kristen yang bersikap kritis terhadap teologi Gereja Katolik Roma yang tradisional, menaruh simpati kepada Luther dan memperjuangkan suatu teologi yang didasarkan pada Alkitab. Pada 1536 ia menetap di Jenewa, ketika ia dihentikan dalam perjalannya ke Basel, oleh bujukan pribadi dari William Farel, seorang reformator. Ia menjadi pendeta di Strasbourg dari 1538-1541, lalu kembali ke Jenewa. Ia tinggal di sana hingga kematiannya pada 1564.


C. Karya-karya Calvin
Karya Calvin yang pertama adalah sebuah buku teologi yang berjudul ”Psychopanychia (Mengenai tidurnya jiwa-jiwa), suatu karangan yang ditulis untuk melawan ajaran Anabaptis yang mengajarkan bahwa manusia tidur hingga Kristus datang kembali setelah manusia meninggal.
Karya yang kedua adalah Institutio (Pengajaran Agama Kristen). Calvin menerbitkan beberapa revisi dari Institutio, sebuah karya yang menjadi dasar dalam teologi Kristen yang membahas tentang pembenaran oleh iman, predestinasi, pemerintahan gereja, dan inti iman Kristen lainnya yang masih dibaca hingga sekarang. Tulisan ini dibuatnya dalam bahasa Latin pada 1536 (pada usia 26 tahun) dan kemudian dalam bahasa ibunya, bahasa Prancis, pada 1541, dan edisi finalnya masing-masing muncul pada tahun 1559 dan 1560.
Ia juga banyak menulis tafsiran tentang kitab-kitab di dalam Alkitab. Untuk Perjanjian Lama, ia menerbitkan tafsiran tentang semua kitab kecuali kitab-kitab sejarah setelah Kitab Yosua (meskipun ia menerbitkan khotbah-khotbahnya berdasarkan Kitab 1 Samuel dan sastra Hikmat kecuali Mazmur). Untuk Perjanjian Baru, ia melewatkan Surat 2 Yohanes dan Surat 3 Yohanes serta Kitab Wahyu. (Sebagian orang mengatakan bahwa Calvin mempertanyakan kanonisitas Kitab Wahyu, tetapi ia mengutipnya dalam tulisan-tulisannya yang lain dan mengakui otoritasnya, sehingga teori itu diragukan.) Tafsiran-tafsiran ini pun ternyata tetap berharga bagi para peneliti Alkitab, dan setelah lebih dari 400 tahun masih terus diterbitkan.
Dalam jilid ke-8 dari Sejarah Gereja Kristen karya Philip Schaff, sang sejarahwan mengutip teolog Belanda Jacobus Arminius (Arminianisme, sebuah gerakan anti-Calvinis, dinamai sesuai dengan nama Arminius), sehubungan dengan nilai tulisan-tulisan Calvin:
Selain mempelajari Alkitab yang sangat saya anjurkan, saya mengimbau murid-murid saya untuk memanfaatkan tafsiran-tafsiran Calvin, yang saya puji jauh melebihi Helmich (seorang tokoh gereja Belanda, 1551-1608); karena saya yakin bahwa ia sungguh tidak tertandingi dalam penafsiran Kitab Suci, dan bahwa tafsiran-tafsirannya harus jauh lebih dihargai daripada semua yang telah diwariskan kepada kita oleh khazanah para Bapak Gereja; sehingga saya mengakui bahwa ia memiliki jauh dari kebanyakan orang lain, atau lebih tepatnya, jauh melampaui semua orang, apa yang dapat disebut semangat nubuat yang menonjol. Institutio-nya harus dipelajari setelah Katekismus Heidelberg, karena mengandung penjelasan yang lebih lengkap, namun, seperti tulisan-tulisan semua orang, juga mengandung prasangka.

Selain menulis buku Pengajaran Agama Kristen, Calvin juga merancang sebuah tata gereja yang mengatur seluruh kehidupan warga kota di Jenewa menurut cita-cita teokrasi. Bersama-sama Farel, Calvin berusaha melembagakan sejumlah perubahan dalam pemerintahan kota dan kehidupan keagamaan. Mereka menyusun sebuah buku katekismus dan pengakuan iman; seluruh warga kota itu mereka wajibkan untuk mengakuinya. Dewan kota menolak pengakuan iman Calvin dan Farel, dan pada Januari 1538 mereka mencabut kekuasaan kedua orang ini untuk melakukan ekskomunikasi, sebuah kekuasaan yang mereka anggap penting untuk pekerjaan mereka. Calvin dan Farel menjawabnya dengan memberlakukan larangan umum kepada semua penduduk Jenewa untuk mengikuti Perjamuan Kudus pada kebaktian Paskah. Karena itu, dewan kota pun mengusir mereka dari kota tersebut. Farel pergi ke Neuchâtel, dan Calvin ke Strasbourg.
Pada tahun 1541, ia kembali ke Jenewa dan menyusun satu tata gereja baru yang bernama Ordenances Ecclesiastiques (Undang-undang Gereja).
Sekembalinya ke sana, berbekal wewenang untuk menyusun bentuk kelembagaan gereja, Calvin memulai program pembaharuannya. Ia menetapkan empat kategori dalam pelayanan gereja, dengan peranan dan kekuasaan yang berbeda-beda:
Doktor memegang jabatan dalam ilmu teologi dan pengajaran untuk membangun umat dan melatih orang-orang dalam jabatan-jabatan lain di gereja.
Pendeta yang bertugas berkhotbah, melayankan sakramen, dan menjalankan disiplin gereja, mengajar, dan memperingatkan umat.
Diaken mengawasi pekerjaan amal, termasuk pelayanan di rumah sakit dan program-program untuk melawan kemiskinan.
Penatua yaitu 12 orang awam yang tugasnya adalah melayani sebagai suatu polisi moral. Mereka umumnya mengeluarkan surat-surat peringatan, serta bila perlu menyerahkan para pelanggar ke Konsistori.
Karya Calvin dalam bidang pendidikan yaitu didirikannya sekolah-sekolah. Di Jenewa didirikan sebuah Akademi yang memiliki dua bagian, yaitu gimnaium dan teologi. Di Akademi inilah dipersiapkan pemuda-pemuda calvinis yang kelak menjadi pemimpin-pemimpin gereja calvinis yang terkenal, seperti John Knox, pembaru gereja di Skotlandia dan Caspar Olevianus, pengarang Kateksimus Heidelberg.
Karya Calvin dalam pemerintahan sipil adalah penekanannya tentang hubungan antara gereja dan negara. Menurutnya seluruh kehidupan masyarakat harus diatur sesuai kehendak Allah. Pemerintah juga bertugas untuk mendukung gereja dan menghilangkan segala sesuatu yang berlawanan dengan berita Injil yang murni. Namun ini tidak berarti bahwa negara berada di bawah gereja, karena gereja dan negara berdampingan. Mengenai tugas negara, Calvin menuliskan sebagi berikut:
”Pemerintah diberi tugas untuk mendukung serta melindungi penyembahan Allah yang lahiriah, supaya penyembahan berhala, hujat terhadap nama Allah, penghinaan terhadap kebenaranNya dan nista lain terhadap agama tidak timbul dengan terang-terangan dan menyebar di anatra rakyat; supaya ketentraman umum tidak terganggu, supaya keikhlasan dan sopan santun tetap dijunjung tinggi”.

D. Pengaruh Calvin dan Ajarannya

Sebagaimana praktik Calvin di Jenewa, terbitan-terbitannya menyebarkan gagasan-gagasannya tentang bagaimana Gereja Reformasi yang benar itu ke banyak gereja dan pemerintahan di bagian Eropa. Calvinisme menjadi sistem teologi dari mayoritas Gereja Kristen di Skotlandia, Belanda, dan bagian-bagian tertentu dari Jerman dan berpengaruh di Prancis, Hongaria (khususnya di Transilvania dan Polandia).
Perkembangan yang cepat itu bukan saja oleh Akademi dan tulisan-tulisannya tetapi juga melalui surat menyurat dengan para pemimpin reformasi di Negara lain, dengan raja-raja dan pembesar-pembesar dunia. Dengan demikian Jenewa menjadi pangkalan baru untuk pembaruan gereja. Hal ini terbukti dalam beberapa dekade, Jenewa sudah berubah menjadi apa yang disebut oleh John Knox sebagai ”Sekolah Kristus yang paling sempurna yang pernah ada semenjak zaman para rasul”.
Pengaruh Calvin atau Calvinisme di Indonesia dimulai pada saat orang-orang Belanda mendirikan satu kongsi dagang yang diberi nama “Verenigde Oostindicche Compagnie (VOC). Badan ini diberi hak oleh Dewan Kota sebagai pemerintah yang berdaulat. Hak yang diberikan kepada VOC untuk bertindak sebagai pemerintah yang berdaulat, menyiratkan bahwa VOC harus melakukan apa yang menurut pemahaman Calvinis yang dicantumkan dalam pasal 36 Pengakuan Iman Belanda, wajib dilakukan oleh pemerintah Kristen. Namun karena beberapa kendala maka pada zaman VOC, gereja yang ditanam adalah gereja Calvinis. Namun Calvinisme itu tidak berakar dalam dan kurang memberi warna khusus pada kekristenan di Indonesia.
Saat VOC dibubarkan, gereja berada dalam keadaan yang menyedihkan karena tidak ada lagi pemberitaan Injil kepada orang-orang pribumi. Namun sekarang pekabaran Injil kepada orang-orang Indonesia mengalami perkembangan, dan pengaruh Calvinisme tetap terasa dalam gereja-gereja di Indonesia. Pengaruh yang terlihat nyata dalam gereja-gereja di Indonesia adalah masih terlihat gereja-gereja yang bercorak Calvinis dengan ajrannya yang ketat, serta pemerintahan gereja yang diadopsi dari pemerintahan yang ditetapkan oleh Calvin di Jenewa.

D. Kesimpulan
Signifikansi misi gereja yang dapat diteladani dari Calvin adalah penekanannya terhadap ajaran-ajaran Kristen yang alkitabiah kepada jemaat melalui khotbah-khotbah dan juga pengajaran-pengajaran. Gereja bertanggung jawab untuk mendidik jemaat sehingga dalam seluruh aspek kehidupan manusia, baik dalam bidang politik, ekonomi, sosial, budaya, pendidikan, dan lain-lain terpancar kemuliaan Tuhan, karena Tuhan bertakhta dalam segala aspek kehidupan manusia.
Satu karya besar dari Calvin yang menjadi harta gereja adalah buku Institutio (Pengajaran Agama Kristen) yang menjadi pedoman pengajaran iman Kristen. Misi Calvin untuk gereja dan jemaat telah tertuang dalam buku itu. Oleh karena itu, dalam menjalankan misi Tuhan, kita harus tetap mempertahankan ajaran yang alkitabiah agar gereja tidak mudah diombang-ambingkan oleh berbagai ajaran yang menyesatkan di zaman akhir ini. Misi calvin adalah mengembalikan gereja kepada kebenaran pada zaman dan dalalm konteksnya, maka misi kita pada zaman akhir ini juga adalah tetap mempertahankan ajaran gereja yang Alkitabiah dan mengembalikan gereja yang mulai keluar dari kebenaran yang Alkitabiah kepada dasar ajaran yang alkitabiah yaitu para rasul.

Literatur:

Christian de Jonge; Apa itu Calvinisme; BPK Gunung Mulia; Jakarta: 2000
Djoko Sulistyo, Johanes calvin – Anak Piatu yang menjadi Pembaru Gereja; BPK Gunung Mulia; Jakarta: 1999
F. D. Wellem; Riwayat Hidup Singkat Tokoh-tokoh dalam Sejarah Gereja; BPK Gunung Mulia; Jakarta: 2003
I. H. Enklaar; Sejarah Gereja Ringkas; BPK Gunung Mulia; Jakarta: 1996
Situs : http\\www.Sabda.org/tokoh gereja
Th. van den End; Institutio (Pengajaran Agama Kristen); BPK Gunung Mulia; Jakarta 2005


Ditulis Oleh: Pdt. Martinus Manek Nikan, M.Div

1 komentar: