Foto Wisuda Pasca Sarjana

Selasa, 11 Mei 2010

Transendensi Eskatologi Karl Barth

Transendensi Eskatologi Karl Barth
A. Pendahuluan
Pemikiran manusia mengenai akhir dari dunia ini diformulasikan dalam berbagai bentuk di sepanjang sejarah teologi dengan sebutan yang diambil dari dua kata Yunani esctoj =eschatos [hal-hal yang terakhir] dan logoj =logos [kata, ilmu, Firman]. Dalam bahasa Inggris diterjemahkan [saat terakhir, waktu terakhir]. Maka eskatologi berarti ilmu atau Firman mengenai "hari-hari terakhir atau ajaran Firman Allah tentang "hal-hal yang akan terjadi pada "hari-hari terakhir" atau Firman tentang akhir jaman. Eskatologi memiliki cakupan pembahasan yang cukup luas makna dan kaitannya, yakni berhubungan dengan hidup kekal, Kerajaan Allah, millenium, surga, neraka, juga mencakup kematian, kebangkitan, penghakiman, dan penyempurnaan yang terakhir, yang terjauh atau paling ujung dll.
Pemikiran mengenai eskatologi yang didedikasikan saat ini begitu banyak dan berfariasi. Kenyataan ini terlihat pada teolog serta kelompok tertentu, misalnya; Adolf von Harnack mengenai "classic liberal eschatology", Rudolf Bultman mengenai "existential eschatology, "dispensational eschatology oleh gereja di Inggris dan Amerika (1909, 1917)", Imanuel Kant tentang "transcendental eschatology, Jurgen Moltmann mengenai "eskatologi futuris” Wolfhart Pannenberg mengenai "eskatologi dalam sejarah keselamatan", dan masih banyak yang lain yang tidak kami sebutkan.
Maka dalam makalah ini kami hanya membatasi pembahasan kami mengenai kata, kalimat dan istilah yang digunakan dalam pemikiran Karl Barth yang lahir tahun 1886 di Basel dengan tajuk "transendensi eskatologi Karl Barth". Pertanyaan penting yang harus dijawab adalah: apakah yang dimaksud dengan transendensi eskatologi Karl Barth?
I. Latar Belakang dan Sentralitas Teologi Karl Barth
Sebelum melangkah jauh untuk memahami konsep eskatologi Barth, teriebih dahulu kami memperhatikan presuposisi Barth di dalam membangun konsepnya yang tersaji dalam 13 seri "Kirchliche Dogmatik" serta tafsirannya mengenai Kitab Roma.
Ada yang menekankan bahwa sentralitas Churcs Dogmatis Barth sebaiknya dipahami melalui konsep "latar belakang historisnya", ada yang memahaminya melalui konsep "dialektika", "ada yang melihat dari "teologi Firman", ada yang mendekatinya bahwa Barth memahami Allah PL adalah Allah agama yang datang pada masa lampau dan Allah PB yang adalah Allah Injil yang nyata dalam tafsiran Kitab Roma, ada pula melalui "konsep Tritunggal" sebagaimana disampaikan Nuban Timo mengenai tujuh pendekatan.
Semua perbedaan pendekatan di atas memiliki kesamaan pemikiran bahwa Churcs Dogmatisnya Barth, ditulis sebagai reaksi terhadap paham Liberal yang dianggap gagal memahami konsep Allah, sehingga setelah memahami, [mereduksikan] tulisan dari Luther dan Calvin lalu tetap mempertahankan konsep ketransendenan Allah. Allah yang transenden menjadikan manusia tidak mungkin memahami Allah yang jauh di atas jangkauan manusia yang terbatas, sehingga dipisahkan oleh batas yang hanya dapat dilalui dari Allah kepada manusia. Transendensi Allah mengakibatkan, "ketika manusia berbicara tentang Allah hanya atas dasar kebutuhan manusia sehingga Allah hanya kelihatan sebagai sebuah kemungkinan agama." Agama hanyalah suatu keinginan manusia untuk keluar dari keterbatasannya secara psikologis, intelektual, moral, politik, dan kesadaran religius untuk memahami Allah yang absolut dan jauh dengan sebutan "yonder" Maka Allah yang jauh tidak dapat dibahasakan secara tepat oleh manusia. Allah adalah pencipta yang dirahasiakan dan Allah yang dinyatakan dalam pemahaman dialektis.
Kami memahami bahwa konsep ketransendenan Allah yang dipahami Barth adalah karena presuposisi dialektis mewarnai semua tulisannya termasuk konsep eskatologis. Indikasi ini mengarah pada suatu kondisi secara personal ketika Allah yang transenden itu mendatangi seseorang melalui Firman sebagaimana dikemukakan oleh Eben Nuban Timo. Dengan cara demikianlah Barth memasukan kemanusiaan [kith] dalam sejarah umum, yang dalam kelangsungannya Allah berbagi diriNya dengan [kita], yang dapat dipahami sebagai realitas eskatologi.

II. Transendensi Eskatologi Menurut Karl Barth
Pada bagian ini kami akan menyajikan secara singkat mengenai kata dan kalimat yang digunakan sehubungan dengan topik mengenai transendensi eskatologi oleh Barth.
Jurgen Moltmann mendeskripsikan dalam bukunya yang bertajuk theology of hope mengenai konsep eskatologi dengan istilah transendensi eskatologi. Menarik bahwa Moltmann mengaitkan penyataan Allah oleh Barth dan konsep transendensi Allah menurut Imanuel Kant yang tidak dapat dipisahkan. Moltmann memformulasikan pemahaman transendensi eskatologi Barth bahwa jika Allah tidak mengungkapkan selain dari dirinya sendiri mengenai tujuan penyataan dalam diriNya sendiri ., "revelation of God is then the coming of the eternal to man or the coming of man to himself It is precisely this reflection on the transcendent 'self' that makes eschatology a transcendental eschatology. Revelation consequently becomes the apocalypse of the transcendent subjectivity of Gor or of man"., penyataan Allah datang dari waktunya, dari kekekalan untuk manusia atau datang bagi diriNya sendiri. Hal itu dengan tepat memperlihatkan di sini transendensi "diriNya sindiri" sebagai eskatologi yang transenden, `penyataan sebagai konsekuensi menjadi pengungkapan dari subjektifitas transendensi Allah kepada manusia.
Moltmann memperlihatkan konsistensi pemikirannya dalam memhami warna transendensi eskatologi Barth yang dikenal dengan klausa "dialektika". Menarik bagi kami karena Barth tidak menulis buku secara khusus mengenai eskatologi. Barth mendasari asumsinya bahwa eskatologi bukanlah bab penutup yang singkat dalam dogmatika, melainkan eskatologi berada dalam seluruh keberadaan teologi. Maka perlu menggunakan pendekatan yang tepat guna memahami perspektif eskatologi Barth. Tafsiran Kitab Roma memperlihatkan gagasan Barth bahwa waktu dan kekekalan adalah berbeda namun dipersatuakn oleh Kristus yang menyatakan diri bagi manusia. Barth tetap menekankan transendensi Allah yang mengakibatkan tidak adanya penghubung yang menghubungkan manusia dengan Allah karena Allah berada "nun jauh di sana" walaupun sebaliknya tetap ada penghubung dari Allah kepada manusia. Eskatologi dan kekekalan semacam ini bukanlah kekekalan yang terpisah secara waktu, melainkan terikat erat dan relevan dengan kehidupan sehari-hari berdasarkan datangnya Allah dari masa depan dan kekekalan melalui pengetahuan dan realitas penyataan. Maka eskatologi bukan merupakan sebuah pengharapan yang akan menjadi sempurna pada penggenapan di masa depan dalam konteks waktu, karena itu bukanlah sesuatu yang penting bagi mananusia. Nubantimo menandaskan transendensi eskatologi Barth memiliki keunikan tersendiri jika mengacu pada prinsipnya bahwa semua konsep mengenai eskatologi [teologi] tidak dapat dipisahkan dengan eksistensi dan penyataan Allah;
Revelation is present to man as a coming event. It does not follow that the present tense of revelation is taken away. On the contrary, presence and coming have both to be stressed (1/2,940). This is because in revelation past, present and future are not present consecutively but simultaneuosly (1/2, 70). The eschatological character is expressed clearly when Barth says; "This event is to be understood both in principle and in fact as future, as the end of all time. In other words, Jesus Christ who has come is also the one who is yet to come".
penyataan hadir kepada manusia dalam sebuah pristiwa yang mendatang, karena di dalam penyataan masa lampau, sekarang ini, dan masa yang akan datang tidak terjadi secara teratur namun secara terus menerus. Barth menyatakan: peristiwa ini dapat dipahami dalam prinsip dan dalam kenyataan sebagai masa depan, sebagai akhir dari semua waktu. Dengan kata lain, Yesus Kristus yang telah datang dalam kesempurnaannya, juga Dia yang akan datang secara sempurna pula. Itulah sebabnya Barth menegaskan "Thus, in Barth revelation and eschatology are connected to one another.
Dengan demikian maka Barth memahami peristiwa eskatologi terjadi secara terus menerus namun bukan mengalami perkembangan menuju suatu realitas akhir, karena hal itu selalu dan sudah nyata secant sempurna di masa lalu. Selanjutnya Nuban Timo mengemukakan bahwa bagi Barth, realitas penyataan — yang tidak dapat dipisahkan dengan kesempurnaan eskatologi— yang terjadi pada masa lampau, masa kini, serta masa depan, walau pun satu namun berbeda. Berbeda secara waktu tetapi "satu isi" dalam hubungannya dengan objek yakni selalu melihat kepada Yesus Kristus yang mengungkapkan penyataan masa depan. Eskatologi tidak lain hanya konfirmasi dari apa yang telah berlangsung. Demikianlah "penyataan dan eskatologi adalah masalah masa depan dalam masa kini" dan hal itu datang dari masa depan. Namun salah apabila mengatakan bahwa peristiwa masa depan adalah penggenapan atau basil dari penyataan. Barth menolak pendapat yang demikian karena penyataan yang telah berlangsung bukan suatu peristiwa yang bersifat sementara atau sebagian. Sebaliknya, Itu selalu hadir untuk manusia dan dalam kesempurnaan. Penyataan masa depan adalah tidak lain hanya konfirmasi penyataan di masa lampau maupun sekarang. Selanjutnya Nuban Timo menggambarkan konsep Barth demikian;
in future revelation is not different from what took place in the past and is happening in the present. Future revelation will happen as confirmation or justification of that of the past and the present. Concerning its sacramental character, doctrine refers to something beyond itself that is, to revelation while revelation draws attention to itself...The eschatological character of revelation cannot be conceived in this way. Revelation does not partly disclose and partly conceal from man something that he will be able to grasp fully and completely only at the end of time.
Penyataan yang diungkapkan mengenai masa depan tidaklah dilakukan hanya sebagian atau sementara dan sebagiannya tersembunyi bagi manusia sampai akhir waktu untuk dinyatakan lebih lengkap melainkan bahwa apa yang akan terjadi pada penyataan masa depan tidak berbeda dengan apa yang terjadi di masa lalu. Masa depan akan terjadi sebagai konfirmasi atau pertimbangan pemberian dari masa lampau.
Kami memahami bahwa transendensi eskatologis yang dimaksudkan Karl Barth adalah berdasarkan keberadaan Allah yang berada "nun jauh" dalam kekudusanNya, sehingga tidak dapat dipahami oleh manusia dalam bentuk bahasa apapun. Eskatologi Barth adalah eskatologi garis lurus secara vertikal dari Allah kepada manusia dan bukan sebaliknya. Eksistensi Allah yang berbeda secara natur hanya berkomunikasi dengan manusia melalui penyataan diriNya bagi manusia secara personal melalui "proklamasi Firman yang diresponi dengan iman dan pertobatan", dan bukan melalui khotbah atau pengajaran Firman. Allah yang transenden menyatakan Allah yang terselubung dan Allah yang terselubung itu rela memberikan kenyataan dalam setip pribadi berdasarkan kerelaan-Nya yang mesti diresponi secara iman. Maka ketika seseorang mengalami suasana "proklamasi Firman" menjadikan dirinya relevan dengan "proklamasi Firman" pada saat tertentu dalam waktu" maka pada saat bersamaan itu orang tersebut mengalami realitas eskatologi.
Kami menyimpulakan bahwa transendensi eskatologi oleh Barth bukanlah sebuah realitas kesempurnaan di masa depan karena penyataan Allah selalu dan telah sempurna di dalam waktu lampau, sekarang, dan akan datang. Hal ini terjadi karena penyataan Allah berlangsung secara personal dalam setiap waktu, yang berasal dari Allah yang berada dalam kekekalan dan menghendaki kekekalan itu nyata dalam waktu manusia saat ini, sehingga kenyataan eskatologi sesuai dengan waktu ke depan hanyalah merupakan konfirmasi dari apa yang sudah terjadi dan bukan penggenapan jaman yang bersifat universal.

III. Eskatologi Dalam Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru
Pada bagian ini kami akan mengemukakan pemikiran-pemikiran teologis yang didasarkan pada fondasi pengharapan eskatologi berdasarkan realitas eskatologi PL, dan realitas eskatologi PB.

I. Realitas Eskatologi PL
Pengharapan masa depan sudah ada dalam Kitab PL. Wolfhart Pannenberg menegaskan bahwa dari sejak penciptaan sudah ada konsep eskatologi yang menjiwai semua keberadaan sejarah alam semesta. Semua mahkluk diciptakan untuk dinikmati oleh manusia sambil bersama-sama menantikan realitas eskatologi dengan klausa "sejarah keselamatan, sejarah suci". Semuanya ini tergenapi dan nampak dalam pribadi Yesus Kristus (1Kor. 15:45). Walau pun perlu dipahami bahwa penciptaan dan eskatologi tidak serupa dari sudut pandang ciptaan. Sekarang hanyalah permulaan yang akan meraih bentuknya yang sempurna dan ciri khas yang benar pada akhimya hanya dipandang dari sudut kesempurnaan eskatologi untuk dapat memahami anti dari permulaannya.
Sehubungan dengan pengharapan masa depan, Bavinck menguraikan ayat-ayat PL yang merujuk kepada pengharapan eskatologis, lalu menekankan keunikan eskatologis PL yang bersifat janji mesianis. Umat Tuhan di masa PL memahami relitas masa depan di atas bumi yang penuh dengankemuliaan. Keselamatan yang diharapkan terjadi di atas bumi, bukan di surga. Hal ini nyata dalam nubuatan PL mengenai kedatangan Mesias. Dia seorang yang diurapi dari keturunan Daud, turut menderita dalampenderitaan umatNya, menjadi Hamba Tuhan yang menderita untuk umatNya dan menanggung kesalahan-kesalahan mereka. Ia akan menjadi Raja dan penguasa, lemah lembut, adil, dan melindungi umatNya, Ia tidak hanya Raja melainkan Nabi dan Imam. Ia akan mengalahkan seluruh bangsa-bangsa kafir yang menjajah Israel secara politis untuk kebebasan Israel. which the Messiah bestows righteousness and blessedness on his people and brings it to dominion over all the peoples of the earth, but The Messiah is an earthly ruler but also an everlasting king, a king.
Pemaparan di atas menggambarkan mengenai pengharapan eskatologis di masa PL yang tidak disadari oleh Barth dan bahkan menolaknya. Barth hanya menganggap Kitab PL sebatas sebuah kenyataan yang tidak berbeda dengan kisah sejarah yang tidak menunjukan peningkatan kenyataan mengenai Allah yang menyatakan dirinya dalam sejarah. Barth hanya menekankan sejarah yang terjadi sebagai sejarah Allah yang terlepas dengan natur dan harapan umat Tuhan. Menarik bahwa Hoekema pun mengemukakan keunikan iman eskatologis dalam PL yang dimulai dalam (Kej. 3) tentang kejatuhan manusia segera diikuti dengan janji akan datangnya Juruselamat dalam ayat 15. Ayat ini sering disebut janji induk "mother promise" ini menjadi pokok pikiran seluruh PL. Hoekema mengemukakan "the further histori of redemption will be an unfolding of the content of this mother promis. From this poin on all of Old Testament revalation loks forward, points forward, and eagerly awats the promised redeemer., dapatlah menekankan bahwa ayat tersebut merupakan benih awal keseluruhan rencana keselamatan Allah bagi manusia. Sejarah selanjutnya merupakan penyingkapan isi yang terkandung dalam janji induk tersebut. Itu sebabnya seluruh penyataan dalam PL melihat menuju masa depan dan rindu menantikan janji mengenai Juruselamat.
Merujuk pada Bavinck mengenai pengharapan mesianis PL dan Hoekema mengenai "mother promise", kami memahami konsep eskatologi PL memilki fondasi, yang jelas sebagai jaminan pengharapan masa depan yang berbeda dengan pemikiran Barth. Walaupun Barth menekankan penyataan Allah mengenai "masa lalu" namun pertanyaannya adalah: apakah penyataan masa lalu yang dimaksud Barth adalah penyataan dalam jaman PL yang terus mengalami perkembangan? Tentunya tidak! Karena Barth tetap menganggap bahwa penyataan Allah dan eskatologi tidak perlu diharapkan lagi kesempurnaannya di masa depan.
Selanjutnya Hoekema menyelidiki dan menguraikan teks-teks PL mengenai konsep eskatologi yang nyata dalam (Ul. 18:15; Maz. 110:4; Za. 9:9; 2Sam. 7:13; Yes. 7:14, 9:7, 42:1-4; 49:5-7; 52:13-15) dan seluruh pasal 53 serta (Dan. 7:13-14). Ayat-ayat ini memperlihatkan bahwa Juruselamat yang dinanti-nantikan oleh orang-orang percaya dalam PL dipahami sebagai sebuah kenyataan yang akan terjadi di masa depan. Hoekema menyimpulkan "berbagai cara dan contoh figur yang dipakai oleh orang-orang percaya dalam PL, mereka adalah orang-orang yang menantikan Juruselamat yang akan datang di suatu masa yang akan datang di hari-hari terakhir,". Bertolak dari teks-teks PL dalam pemikiran Hoekema, kami memahami bahwa Barth melakukan kekeliruan ketika mengatakan bahwa konsep eskatologi bukanlah sebuah penantian ke masa depan yang akan menjadi sempurna, melainkan kesempurnaan eskatologis sudah terjadi secara personal dalam konteks kekinian ketika seseorang mengalami "proklamasi Firman, iman, pertobatan" dari Allah yang transenden, yang akan terjadikan masa depan sebuah "konfirmasi, penegasan".
Hoekema menegaskan bahwa eskatologi Barth tidak memiliki akhir yang jelas sebab teks Alkitab (Zef. 1:14-15; Yes. 11:6-9; 32:15; 35:1; 35:7; 16:17; 66:22) terdapat pengharapan tentang Juruselamat yang akan datang, dan menghancurkan, meremukan kepala si ular. Selanjutnya, pengharapan eskatologis itu semakin diperkaya. Berbagai pengharapan eskatologi tersebut sudah tentu tidak berlangsung secara serempak atau dalam waktu yang bersamaan [sebagaimana konsep Barth], melainkan mengandung bentuk dan waktu yang berbeda-beda."
Bertolak dari pemikiran Bavinck dan Hoekema maka pada bagian ini kami menyimpulkan pula bahwa transendensi eskatologi Barth tidak mengindahkan pengharapan di masa PL sebagai sebuah realitas sejarah yang terus mengalami perkembangan secara progresif sebagaimana konsep progresifitas penyataan Allah. Teks-teks PL memberikan gambaran yang jelas mengenai realitas masa lalu yang tidak dapat dipisahkan dengan orientasi masa kini yang bergerak menuju sebuah akhir dalam kesempurnaan eskatologi masa depan yang belum terjadi secara sempurna melainkan berkembang secara bertahap.

2. Realitas Eskatologi PB
Telah di jelaskan di atas bahwa konsep eskatologi PL berada dalam pengharapna iman yang berorientasi ke masa depan mengenai kedatangan Juruselamat. Maka sekarang penting pula untuk memperhatikan konsep eskatologi PB yang juga berorientasi ke depan. Dengan demikian maka realitas eskatologi Barth, sehubungan dengan tafsiran Kitab Roma 13:11 bahwa eskatologi sudah genap sekarang ini, sehingga kekekalan bukanlah terpisah secara waktu, melainkan terikat erat dan relevan dengan kehidupan sehari-hari. Barth menyangkali keterpisahan waktu dan realitas pengharapan dalam PL dan PB yang berbeda secara waktu dan telah terjadi kekekalan pada masa PB, rupanya menghilangkan kesempurnaan di masa depan mengenai berkat yang jauh lebih besar lagi. Menurut Barth, tidak perlu lagi pengharapan masa depan bagi orang percaya sebab semuanya sudah terjadi di dalam realitas kekinian. Sehubungan dengan penolakan terhadap konsep Barth, benarlah apa yang ditegaskan oleh Hoekema bahwa pengetahuan tentang rencana penebusan Allah jauh lebih kaya, iman orang percaya dalam PB jauh lebih diperdalam, dan keyakinan orang percaya terhadap kasih Allah yang nyata dalam Kristus lebih diperkuat. Demikian pula, pada saat yang bersamaan, jauh lebih ditingkatkan. Sebab PB maupun PL sama-sama melihat ke masa depan tentang suatu keyakinan mendalam bahwa karya penyelamatan oleh Roh Kudus saat ini hanyalah awal bagi sebuah penebuasan yang lebih limpah dan utuh di masa yang akan datang.
Eskatologi PB menekankan mengenai Kristus yang bangkit kembali dari antara orang mati (Mrk. 9:9). Yesus selalu menunjuk jauh ke masa depan. Kerajaan Allah akan datang dalam kemuliaan yang sempurna, dan pemerintah Bapa akan dinyatakan melalui Anak meliputi alam semesta (Mat. 24:19-31; 25:31-34; Mrk. 13:24-27; Luk. 21:25-27; Yoh. 5:28-29; 6:44; 14:2-3). Janji Yesus yang penting adalah bahwa Dia akan datang kembali ke bumi pada suatu masa nanti (Yoh. 14:3; Mat. 24:27, 36; Mrk. 13:26; Luk. 21:27; Why. 3:11; 22:7-20). Kedatangan Tuhan merupakan berita penting yang diwartakan para murid Yesus, karena dimuat sebanyak 318 kali dalam PB. KedatanganNya kembali adalah dengan segala kekuasaan dan kemuliaanNya. Kami melihat bahwa semua teks-teks ini mungkin tidak dipahami dengan baik oleh Barth yang menghilangkan realitas pengharapan mengenai masa depan.
Beberapa teks Alkitab di atas menyoroti konsep Barth mengenai hubungan tentang penyataan dan konsep eskatologi yang tidak dapat dipisahkan. Secara logis memang tidak salah kerena penyataan Allah tidak dapat direduksi oleh manusia menjadi terpisah dengan rencana kedatangan kembali di masa depan. Namun tidak demikian halnya maksud Barth di sini. Menurutnya peristiwa penyataan Allah sekaligus membuat eskatologi itu menjadi sempurna pada saat yang bersamaan. Sekali lagi, Barth menyangkali teks-teks PL, demikian pula PB yang menekankan tentang janji masa depan dimana Kerajaan Allah akan disempurnakan.
Meskipun sebenarnya dapat dikatakan bahwa orang percaya dalam PL telah mengalami ketegangan ini, namun ketegangan ini baru dirasa lebih nyata oleh orang-orang PB, sebab orang-orang PB memiliki pengalaman dari nubuat yang telah digenapi dan pengertian yang lebih jelas tentang pengharapan yang akan datang. Hal ini ditegaskan dalam Alkitab namun sayang sekali karena Barth tidak memahaminya dengan baik. Dengan sangat baik Hoekema menulis; "eskatologi bagi Barth bukan lagi suatu penantian terhadap peristiwa-peristiwa tertentu yang akan muncul di masa yang akan datang, melainkan suatu keyakinan kepada Yesus kristus, melalui pertobatan dan iman di setiap saat. Ini sebagai "eskatologi yang tidak terikat oleh waktu" di mana parousia tidak lagi dimegerti sebagai kedatangan Kristus kembali di masa yang akan datang, melainkan sebagai "sebuah simbol yang tidak terikat oleh waktu bagi kerinduan terhadap kekekalan di setiap waktu. konsep ini disebut sebagai "eskatologi vertikal" yang dalam arti berlawanan dengan horizontal."
Dengan demikian, kesalahan Barth adalah masa depan dibawa masuk ke masa sekarang secara vertikaal dari Allah yang jauh, sehingga eskatologi dipahami dengan "yang melanpaui, trans" dan penekanan futurisme dihilangkan karena kekekalan telah hadir secara sempurna sekarang ini.

IV. Kesimpulan dan Saran
Transendensi eskatologi Nuban Timo memperlihatkan tentang Allah yang jauh tidak dapat dijangkau oleh manusia. Inilah eskatologi yang dipengaruhi oleh prasuposisi dialektis oleh filsafat Imanuel Kant tentang keberadaan Allah dan manusia yang berbeda secara natur, dan tidak mungkin mampu memformulasikan eskatologi terlepas dari Allah yang menyatakan diriNya. Pemahaman ini tentunya menjadi racun karena menghilangkan esensi iman Kristen mengenai pengharapan masa depan dan pengharapan bagi kedatangan Kristus kembali.
Eskatologi yang diharapkan pada masa PL telah nyata dalam masa PB terus memperlihatkan perkembangan ke depan yang semakin nyata, sambil dicicipi oleh setiap orang percaya yang telah ditebus oleh Kristus. Hal ini berbeda dengan transendensi eskatologi Barth yang tidak percaya tentang kedatangan Kerajaan Allah yang bersifat universal, bahwa bumi dan alam semesta yang ada akan berakhir. Bagi Barth, secara tersirat alam semesta yang sekarang ada akan tetap ada sehingga orang percaya tidak perlu lagi mengharapkan penggenapan jaman. Sungguh tragis karena Barth hanya mengiming-iming jemaat Tuhan saat ini tentang kekekalan yang tiada pernah berakhir dengan sempurna.
Barth hanya menekankan eskatologi yang bersifat relasi vertikal antara Allah kepada manusia pada masa lampau, masa sekarang, dan masa yang akan datang dalam realitas kekinian melalui "proklamasi Firman, namun situasi penyataan di masa depan memiliki "isi" yang tidak berbeda karena hanya bersifat konfirmasi, iman, pertobatan" dan bukan penggenapan. Transendensi eskatologi bertolak belakang dengan fakta PL dan PB bahwa orang percaya hendaknya tetap mengharapkan realitas eskatologi yang akan digenapi pada masa depan pada setiap lembar Alkitab dari PL hingga PB.

V. Daftar Pustaka
Balz, Horst & Schneider, Gerhard., Exegetical Dictionery of The New Testament, Volume 2, (William B. Eerdmans Publishing Company Grand Rapids, Michigan, 1991)
Barth, Karl., Church Dogmatics 111.2., the Doctrin of Creation, First Paperback, (T&T Clark International, 2004)
,Churcs Dogmatics, 1.1., the Doctrin of the Word of God, (T&T. Clark International, 2004)
Bavinck, Herman., Reformed Dogmatics., Holy Spirit, Church, and New Creation Volume Four, (Baker Academic Grand Rapids Michigan, 1984)
Hoekema, Anthony A., The Bible and Future, (Eerdmans Publising, Grand Rapids Michigan, 1979) .,Alkitab dan Akhir Jaman, (Surabaya: Momentum, 2009)
Moltmann, Jurgen., Theology of Hope, (Sanfransisco: HaperColins Publisher, 1967)
Nuban Timo, Ebenhaizer Imanuel., "The Eschatological Dimension in Karl Barth's Thinking and Speking About thr Future, (Theologiche Universiteit van de Gereformeerde Kerken in Nederland to Kampen, 2001)
Pannenberg, Wolfhart., Systematic Theology Volume 2, ( T&T. Clark International A Continuum Imprin, 2004)
Pauch, Wilhelm., Karl Barth — Prophet of A New Christianity, First Edition I-F, (U.S.A by Harper Brotbers, 1931)
Reymond, Robert L., A New Sistematic Theology of the Christian Fait, One Volume, (Nashville, Tannesea by Thomas Nelson Inc)

Ditulis oleh: Sensius Karlau, M.div

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar